Metode Salaf Lebih Selamat dan Metode Khalaf Lebih Jelas dan Lebih Tegas?
Ini merupakan sebuah tulisan yang membantah klaim sebagian Ahli Kalam dan Filsafat yang mengklaim bahwa metode salaf (ulama dari tiga generasi emas umat Islam) dalam memahami ayat-ayat dan hadis-hadis tentang sifat Allah lebih selamat sedangkan metode mereka, ulama khalaf (ulama yang hidup belakangan dari kalangan ahli kalam dan filsafat) lebih lebih jelas dan tegas. Mereka menyangka bahwa ulama dari tiga generasi emas umat Islam hanya mengimani saja hadis dan ayat tentang sifat-sifat Allah tanpa memahami makna dan hakikatnya. Adapun metode khalaf dalam memahami ayat-ayat dan hadis-hadis tentang sifat Allah lebih jelas dan tegas dengan menjelaskan detail makna-maknanya dengan berbagai jenis majaz dan arti-arti bahasa Arab.
Pernyataan tersebut adalah sebuah ketidakfahaman terhadap generasi salaf sekaligus kebohongan atas nama mereka radhiyallahu 'anhum wa rahumahumullah. Karena ulama salaf tentu mengetahui makna yang dimaksud dari ayat-ayat dan hadis-hadis tentang sifat Allah dengan pengetahuan yang sempurna.
Allah dalam banyak ayat dan Nabi-Nya dalam banyak hadis telah memuji mereka, dan telah dipaparkan sebagian dalil-dalil tersebut dalam pembahasan Sumber dalam Memahami Nama dan Sifat Allah. Pujian ini menunjukka bahwa mereka adalah orang yang terdepan dalam ilmu dan amal. Dan kesaksian para sahabat dan para tabi'in tentang hal ini sangatlah banyak, di antaranya;
Abdullah Ibnu Umar radhiallahu’anhu berkata:
مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتِنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ، فَإِنَّ الْحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ
أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانُوْا أَفْضَلَ هَذِهِ الأُمَّةِ، وَأَبَرَّهَا قُلُوْباً
وَأَعْمَقَهَا عِلْماً، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ، وَإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ
وَاتَّبِعُوْهُمْ فِيْ آثَارِهِمْ، وَتَمَسَّكْوْا بِمَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ أَخْلَاقِهِمْ وَدِيْنِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ
“Siapa saja yang mencari teladan, maka teladanilah orang yang telah wafat. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup tidak dijamin terpelihara dari fitnah. Itulah mereka para Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam. Karena merekalah orang yang paling baik hatinya di antara umat ini, paling mendalam ilmu agamanya, umat yang paling sedikit berlebihan-lebihan (dalam beragama). Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jejak mereka dan berpegang teguhlah pada akhlak serta agama mereka semampu kalian, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” (Sebagian ulama menyandarkan atsar ini kepada Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu)
Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata:
والذي لا إله غيره، ما نزلت آية من كتاب الله إلا وأنا أعلم فيما نزلت، وأين نزلت
ولو أعلم مكان أحد أعلم بكتاب الله مني تناله المطايا لأتيته
Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, tidaklah turun satu ayat pun dari Kitab Allah kecuali aku mengetahui sebab ayat itu turun dan dimana ayat itu turun. Jikalau aku mengetahui kediaman seseorang yang dia lebih faham tentang Kitab Allah dari pada aku yang bisa dicapai dengan hewan tunggangan pasti aku datangi,
روى الإمام أحمد عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ زيد بن خالد الجهنيّ رضي الله عنه قَالَ
حَدَّثَنَا مَنْ كَانَ يُقْرِئُنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُمْ كَانُوا يَقْتَرِئُونَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ
صلى الله عليه وسلم عَشْرَ آيَاتٍ، فَلَا يَأْخُذُونَ فِي الْعَشْرِ الْأُخْرَى حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِي هَذِهِ مِنْ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ
قَالُوا: فَعَلِمْنَا الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ
Imam Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah bin Habib as-Sulami al-Kûfi rahimahullah berkata, “Kami mempelajari al-Qur’an dari suatu kaum (para Sahabat Radhiyallahu anhum); ‘Utsmân bin ‘Affân Radhiyallahu anhu, ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu dan selain mereka berdua. Mereka menyampaikan kepada kami bahwa dulunya ketika mereka mempelajari (al-Qur’an) dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh ayat, maka mereka tidak akan melewati ayat-ayat tersebut sampai memahami kandungan isinya, dalam ilmu dan amal. Mereka berkata, “kami (dulu) belajar al-Qur’an, memahami kandungannya dan pengamalannya secara keseluruhan.
Komentar
Posting Komentar