Sikap Ahlussunnah dalam Memahami Nama dan Sifat Allah
Nama dan Sifat yang ditetapkan untuk Allah
Sikap Ahlussunnah wal Jamaah terhadap nama dan sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya sendiri dalam Al Quran dan terhadap nama dan sifat Allah yang Rasulullah tetapkan untuk Allah dalam hadis-hadis yang shahih adalah menetapkan nama dan sifat tersebut untuk Allah tanpa ta'thil. tahrif, ataupun takyif dan tamtsil.
Misalkan Allah menetapkan nama Ar Razzaq untuk Diri-Nya dan menetapkan sifat Maha Kuat dan Maha Kokoh untuk Diri-Nya dalam firmannya;
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh."
Maka Ahlussunnah wal Jamaah menetapkan nama dan sifat tersebut untuk Allah tanpa ta'thil. tahrif, ataupun takyif dan tamtsil. Sebagaimana dalam pembahasan Penyimpangan Dalam Beriman kepada Nama dan Sifat Allah.

Nama dan Sifat yang Ditiadakan dari Allah
Begitu pula terhadap nama dan sifat yang Allah tiadakan dari diri-Nya sendiri dalam Al Quran dan juga terhadap nama dan sifat Allah yang Rasulullah tiadakan dari Allah dalam hadis-hadis yang shahih, maka Ahlussunnah wal Jamaah meniadakan nama dan sifat tersebut dari Allah dan menetapkan (meyakini) kesempurnaan sifat kebalikan dari nama dan sifat (yang ditiadakan tersebut) tersebut.
Misalkan Allah meniadakan sifat kantuk dan tidur dari Diri-Nya dalam firmannya;
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
"Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur..."
Maka Ahlussunnah wal Jamaah meniadakan sifat tersebut dan menetapkan (meyakini) kesempurnaan sifat kebalikan dari nama dan sifat (yang ditiadakan tersebut) tersebut. Dan kesempurnaan sifat kebalikan dari kantuk dan tidur adalah sempurnanya sifat Kemaha-Hidupan Allah ta'ala.
Begitu pula Allah meniadakan sifat zalim dari Diri-Nya dalam firmannya;
وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا - الكهف - الآية 49
"Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang..."
Begitu pula Allah meniadakan sifat lelah dari Diri-Nya dalam firmannya;
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ - اق - الآية 38
" Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. "
Begitu pula Allah meniadakan sifat mati dari Diri-Nya dalam firmannya;
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ - الفرقان - الآية 58
" Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, ...."

Begitu pula Allah meniadakan sifat lemah dari Diri-Nya dalam firmannya;
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِن شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ - فاطر - الآية 44
" Dan tiada sesuatupun yang di langit maupun di bumi dapat melemahkan Allah... "
Begitu pula Allah meniadakan sifat lupa dari Diri-Nya dalam firmannya;
وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا - مريم - الآية 64
" ... Dan tidaklah Tuhanmu lupa."
Begitu pula Allah meniadakan sifat keliru dan lupa dari Diri-Nya dalam firmannya;
لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى - طه - الآية 52
" Tuhanlu tidak akan salah dan tidak (pula) lupa."
Begitu pula Rasulullah meniadakan sifat tuli dan ketiadaan dari Allah dalam sabdanya;
أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا - رواه أحمد
“Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian (dalam berdoa). Sungguh kalian tidaklah berdo’a pada Dzat yang tuli atau yang tidak ada.”
Semua nama-nama dan sifat-sifat di atas -dan dalam ayat-ayat dan hadis-hadis yang lain- merupakan aib dan sifat negatif bagi Allah. Maka menjadi kewajiban bagi kita untuk melakukan dua hal dalam masalah ini.
- Meniadakan sifat tersebut, dan
- menetapkan (meyakini) kesempurnaan sifat kebalikan dari nama dan sifat (yang ditiadakan tersebut).
Maka setelah kita meniadakan sifat tersebut dari Allah, kemudian kita menyakini kesempurnaan sifat yang berkebalikan dari sifat yang ditiadakan tersebut. Karena hanya ketiadaan sifat pada sesuatu tidak menunjukkan keutamaan apalagi kesempurnaan. Ketiadaan sifat akan menunjukkan keutamaan apalagi kesempurnaan apabila disertai dengan keyakinan kesempurnaan sifat yang berkebalikan dari sifat yang ditiadakan tersebut. Sifat sempurna yang merupakan lawan dari sifat tuli adalah Maha Mendengar, sifat sempurna dari kebalikan sifat tiada adalah Maha Ada dan Maha Dekat, sifat sempurna dari kebalikan sifat keliru adalah Maha Benar, sifat sempurna dari kebalikan sifat mati adalah Maha Hidup, sifat sempurna dari kebalikan sifat zalim adalah Maha Adil, sifat sempurna dari kebalikan sifat lelah adalah Maha Kuat dan Maha Perkasa, dan begitu seterusnya.
Menyikapi Nama dan Sifat yang tidak ditetapkan dan tidak ditiadakan oleh Allah
Sebagian Ahli Bid'ah menetapkan atau memberikan nama atau sifat kepada Allah yang tidak terdapat dalam Al Qur'an atau Hadis Nabi. Misalkan mereka berkata Allah berdiri sendiri (قيامه لنفسه) atau Allah itu berbeda dengan makhluknya (مخالفة للحوادث). Atau mereka meniadakan nama atau sifat dari Allah yang tidak terdapat dalam Al Qur'an atau Hadis Nabi. "Allah suci dari arah (الجهة)" atau "Allah tidak memiliki jasad (الجسم)" dan lain sebagainya.
Maka sikap Ahlussunnah wal Jamaah terhadap istilah-istilah baru (bid'ah) tersebut adalah diam dan berhenti sampai dijelaskan secara terperinci apa maksud dari istilah-istilah tersebut.
- Apabila maksud dari istilah tersebut sesuai dengan aqidah yang benar, maka kita membenarkan maksud istilah tersebut kemudian mengarahkan orang yang memakai istilah tersebut untuk menggunakan istilah (nama dan sifat) yang sudah ada dalam Al Quran atau Sunnah.
- Apabila maksud dari istilah tersebut bertentangan dengan aqidah yang benar, maka kita menola istilah atau (nama dan sifat) tersebut.
- Apabila maksud dari istilah tersebut mengandung kebenaran dan juga kesalahan, maka kita tidak menolaknya secara total sebagaimana kita tidak menerimanya secara keseluruhan.
Misalkan perkataan "Allah tidak memiliki jasad (الجسم)" apabila maksudnya adalah Allah tidak memiliki jasad seperti manusia, misalkan rambut, darah, organ dalam tubuh dan lain-lain maka kita terima pemahaman ini. Namun kita menolak untuk menggunakan istilah jasad (الجسم). Atau apabila maksudnya adalah Allah tidak memiliki wajah, tidak memiliki tangan, tidak memiliki mata, maka kita menolaknya karena sifat wajah, tangan, mata telah Allah tetapkan dalam firman-Nya;
وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ - الرحمن - الآية 27
" Dan tetap kekal ًWajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. "
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan: “Wajah (Allah) merupakan sifat yang terbukti keberadaannya berdasarkan dalil Al-Kitab, As-Sunnah dan kesepakatan ulama salaf.” Kemudian beliau menyebutkan ayat 27 dalam surat Ar-Rahman. (Syarh Lum’atul I’tiqad)
Allah ta’ala berfirman :
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ - هود - الآية 37
"Dan buatlah bahtera itu dengan (pengawasan) mata Kami dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang lalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan”
حدثنا محمد بن عبد الأعلى قال ، حدثنا محمد بن ثور، عن معمر، عن قتادة في قوله
بأعيننا ووحينا، قال: بعين الله ووحيه
Ahli tafsir Qatadah berkata tentang firman-Nya : ‘...dengan (pengawasan) mata-mata dan petunjuk wahyu Kami’, ia berkata : “Dengan mata Allah dan wahyu-Nya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Jariir dalam Tafsir-nya.
Allah ta’ala berfirman :
قَالَ يَٰٓا إِبۡلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَيَّۖ أَسۡتَكۡبَرۡتَ أَمۡ كُنتَ مِنَ ٱلۡعَالِينَ - ص - الآية 75
“Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”
Ibnu Khuzaimah menuliskan dalam Kitab At-Tauhid bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki dua tangan yang terbentang dan berinfak sekehendak-Nya. Dengan kedua tangan-Nya, Allah ‘azza wa jalla menciptakan Adam. Dan kedua tangan tersebut adalah tangan hakiki yang tidak sama dengan tangan makhluk-Nya.
Allahua’lam. Tulisan kelima dari faidah tentang Tauhid Asma wa Shifat dari guru kami Dr. Abdullah Roy hafizahullah.
Ditulis dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Komentar
Posting Komentar