Bolehkah Berambut Gondrong?
PERTANYAAN:
Bolehkah bagi seorang muslim memanjangkan rambut?
JAWAB:
فعن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يضرب شعرُه منكبيه
2338 رواه البخاري 5536 ومسلم
وقال أنس بن مالك رضي الله عنه : كان شعر رسول الله صلى الله عليه وسلم بين أذنيه وعاتقه
رواه البخاري (5565) ومسلم (2338) . وفي رواية عند مسلم
كان شعر رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أنصاف أذنيه
:قال الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله
إطالة شعر الرأس لا بأس به ، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم له شعر
يقرب أحيانا إلى منكبيه ، فهو على الأصل ، لا بأس به
ولكن مع ذلك هو خاضع للعادات والعرف
فإذا جرى العرف واستقرت العادة بأنه لا يستعمل هذا الشيء
إلا طائفة معينة نازلة في عادات الناس وأعرافهم
فلا ينبغي لذوي المروءة أن يستعملوا إطالة الشعر حيث إنه لدى الناس
وعاداتهم وأعرافهم لا يكون إلا من ذوي المنزلة السافلة
فالمسألة إذاً بالنسبة لتطويل الرجل لرأسه من باب الأشياء المباحة
التي تخضع لأعراف الناس وعاداتهم فإذا جرى بها العرف
وصارت للناس كلهم شريفهم ووضيعهم ؛ فلا بأس به
أما إذا كانت لا تستعمل إلا عند أهل الضعة
فلا ينبغي لذوي الشرف والجاه أن يستعملوها
ولا يرِد على هذا أن النبي صلى الله عليه وسلم - وهو أشرف الناس وأعظمهم جاها
كان يتخذ الشعر لأننا نرى في هذه المسألة أن اتخاذ الشعر ليس من باب السنة والتعبد
وإنما هو من باب اتباع العرف والعادة
"فتاوى نور على الدرب"
Dari Anas radiyAllahuanhu bahwasanya Nabi shallAllahu alaihi wa sallam beliau menjadikan panjang rambutnya sampai sebahu.
Diriwayatkan oleh Al Bukhari 5563 dan Muslim 2338.
Anas bin Malik radhiAllahunhu berkata: "Adalah rambut Rasulullah shallAllahu alaihi wa sallam panjangnya di antara dua telinga dan pundaknya."
Diriwayatkan oleh bukhari 5565 dan Muslim 2338, dalam riwayat Muslim: "Adalah rambut Rasulullah shallAllahu alaihi wa sallam panjangnya hingga pertengahan kedua telinganya.''
Syaikh Muhammad Bin Sholeh Utsaimin rahimahullah berkata:
"Memanjangkan rambut kepala tidaklah mengapa, karena Nabi shallAllahu alaihi wa sallam memiliki rambut yang panjangnya seringkali mendekati kedua bahunya, dan inilah hukum asalnya, yaitu tidaklah mengapa (mubah), akan tetapi hal itu hendaknya mengikuti adat dan kebiasaan, jika sudah menjadi kebiasaan dan aturan adat bahwa tidaklah berpenampilan demikian (memanjangkan rambut) ini melainkan hanya dilakukan oleh golongan tertentu, yang dianggap rendah di masyarakat serta kebiasaan mereka, maka tidak sepatutnya bagi yang masih memiliki muru'ah/ kehormatan untuk memanjangkan rambutnya, di mana masyarakat serta adat kebiasaan mereka masih menganggap bahwa berambut gondrong ini tidaklah dilakukan kecuali oleh yang jelek. Dalam masalah ini, jika seseorang yang memanjangkan rambutnya dihubungkan sebagai satu hal yang mubah, yang selaras dengan kebiasaan serta adat masyarakat sehingga sudah menjadi hal lumrah dan dilakukan oleh seluruh masyarakat baik orang-orang terpandang maupun orang biasa, maka tidaklah mengapa berambut gondrong, adapun jika berpenampilan demikian tidaklah dilakukan melainkan hanya oleh orang-orang kelas rendah, maka tidak sepatutnya bagi yang memiliki kehormatan serta kedudukan untuk berpenampilan demikian, karena tidak ada riwayat dalam masalah ini bahwasanya Nabi menjadikan rambutnya sebagai satu hal yang sunnah, padahal Nabi adalah manusia paling mulia serta paling besar kedudukanya, karenanya kami (Syeikh) memandang dalam masalah ini bahwasanya memanjangkan rambut bukanlah termasuk perkara sunnah dan bukan perkara ibadah, memanjangkan rambut hanyalah termasuk dalam bab mengikuti kebiasaan serta adat budaya saja."
Fatwa Nur Ala Darbi
Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.
Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Komentar
Posting Komentar