Pentingnya Amalan Hati


Bulan Ramadhan yang mulia telah pergi meninggalkan kita. Ramadhan adalah masa training yang melatih kita taat kepada Allah. Ramadhan adalah sekolah yang mengajarkan kita giat dalam beramal shalih. Sudah sebulan lamanya kita ditempa untuk shalat wajib di masjid, memperbanyak shalat sunnah, memperbanyak sedekah, puasa, membaca Al Quran, dan lain sebagainya. Semua amalan tersebut adalah amalan-amalan yang mulia dan berpahala sangat besar di sisi Allah. Semua ibadah tersebut adalah jalan-jalan yang membawa pelakunya menuju surga Allah ta'ala.
Namun, ada satu jalan yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia. Ada amalan ibadah yang lebih baik dari semua ibadah tadi, namun sering tidak diperhatikan. Yaitu, amalan batin atau amalan jiwa. Dalam syariat Islam, amalan bisa dibagi menjadi dua jenis, amalan zahir atau amalan fisik seperti shalat, puasa, sedekah, dan lain sebagainya yang menjadi rutinitas kita sepanjang Ramadhan lalu. Jenis amalan yang kedua adalah amalan hati atau amalan batin, yang tidak bisa dilihat mata. Yang tidak ada yang menilai kecuali Allah.
Semua ulama Islam sepakat bahwa amalan hati lebih besar pahalanya di sisi Allah. Amalan hati lebih penting dari pada amalan fisik, sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah bin Mubaarak: “Betapa banyak amalan kecil, namun pahalanya menjadi besar karena faktor niat (dalam hati). Dan bisa jadi amalan besar menjadi kecil nilai pahalanya disebabkan oleh niat.” Amalan hati ada banyak jumlahnya, di antaranya adalah;





1. Ihsan.
Ihsan merupakan puncak dari segala kebaikan. Ihsan adalah level tertinggi dalam ibadah kepada Allah ta'ala, sebagaimana disebutkan dalam hadis Jibril.






.ﻗﺎﻝ : ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ ﻋﻦ ﺍﻹﺣﺴﺎﻥ. ﻗﺎﻝ : ﺃﻥ ﺗﻌﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﺄﻧﻚ ﺗﺮﺍﻩ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﺗﺮﺍﻩ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺮﺍﻙ.






"Sampaikan kepadaku tentang apa itu ihsan!’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ihsan itu, engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihatnya. Jika engkau tidak bisa, maka sesungguhnya Allah melihatmu."





Orang yang memiliki sifat ihsan dia akan memperbagus ibadahnya karena merasa dilihat oleh Allah. Dia akan meninggalkan dosa dan maksiat karena merasa dilihat oleh Allah. Sehingga seluruh perbuatannya di dasarkan atas perasaan dilihat oleh Allah, bukan semata-mata karena dilihat oleh mata-mata manusia.





2. Khusyu'





Khusyu’ dalam ibadah, terutama shalat, ibarat ruh dalam jasad. Jasad yang ditinggal oleh ruhnya, maka jasadnya menjadi mati, sehingga tiada berguna lagi. Seperti itu pula shalat, bila kosong dari kekhusyukan, maka untuk siapa gerakan ruku’ dan sujudnya? Dan apa gunanya membaca bacaan-bacaan dalam shalat? Khusyu berarti memusatkan kosentrasi dalam hati untuk menghayati setiap apa yang digerakkan dan diucapkan dalam shalat disertai perendahan diri dan pengagungan kepada Allah Rabbul ‘alamin.
Allah berfirman:






ﻗَﺪْ ﺃَﻓْﻠَﺢَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺻَﻠَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺧَﺎﺷِﻌُﻮﻥَ






“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam shalatnya selalu khusyu.” (Al-Mu’minun:1-3).






ﺭﻭﻯ ﺍﻟﻄﺒﺮﺍﻧﻲ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺪﺭﺩﺍﺀ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ
:ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ
ﺃﻭﻝ ﺷﻲﺀ ﻳﺮﻓﻊ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﺨﺸﻮﻉ
ﺣﺘﻰ ﻻ ﺗﺮﻯ ﻓﻴﻬﺎ ﺧﺎﺷﻌﺎ
ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ : ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ






Imam Tabrani meriwayatkan hadis dari Abu Darda’ Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Yang pertama kali diangkat (oleh Allah) dari umat ini adalah rasa khusyu’, sehingga (nantinya) kamu tidak akan melihat lagi seorang yang
khusyu’ (dalam ibadahnya). Syeikh Al Albani berkata, "Hadis hasan shahih."





Nabi yang mulia juga bersabda sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud ;





ﺇﻥَّ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪَ ﻟَﻴَﻨْﺼَﺮِﻑُ ﻣِﻦْ ﺻَﻠَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻜْﺘَﺐْ ﻟَﻪُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺇﻟَّﺎ ﻧِﺼْﻔُﻬَﺎ
ﺇﻟَّﺎ ﺛُﻠُﺜُﻬَﺎ، ﺇﻟَّﺎ ﺭُﺑْﻌُﻬَﺎ، ﺇﻟَّﺎ ﺧُﻤُﺴُﻬَﺎ ﺇﻟَّﺎ ﺳُﺪُﺳُﻬَﺎ، ﺇﻟَّﺎ ﺳُﺒُﻌُﻬَﺎ، ﺇﻟَّﺎ ﺛُﻤُﻨُﻬَﺎ
ﺇﻟَّﺎ ﺗُﺴْﻌُﻬَﺎ، ﺇﻟَّﺎ ﻋُﺸْﺮُﻫَﺎ






"Sungguh seorang hamba ketika dia selesai dari salatnya, tidak dituliskan pahala baginya kecuali setengahnya, sepertiganya, seperempatnya, seperlimanya, seperenamnya, sepertujuhnya, seperdelapannya, sepersembilannya, atau sepersepuluhnya."





Oleh sebab itu, di antara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah:






ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺃﻋﻮﺫ ﺑﻚ ﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ ، ﻭﻣﻦ ﻗﻠﺐ ﻻ ﻳﺨﺸﻊ
ﻭﻣﻦ ﻧﻔﺲ ﻻ ﺗﺸﺒﻊ ، ﻭﻣﻦ ﺩﻋﺎﺀ ﻻ ﻳﺴﻤﻊ






“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan hati yang tidak khusu’, dan jiwa yang tidak pernah kenyang, dan do’a yang tidak didengar ”










3. Niat
Abdullah bin Mubaarak berkata:






ﺭﺏ ﻋﻤﻞ ﺻﻐﻴﺮ ﺗﻌﻈﻤﻪ ﺍﻟﻨﻴﺔ، ﻭﺭﺏ ﻋﻤﻞ ﻛﺒﻴﺮ ﺗﺼﻐﺮﻩ ﺍﻟﻨﻴﺔ






“Boleh jadi amalan kecil, namun pahalanya menjadi besar karena faktor niat (keikhlasan). Dan bisa jadi amalan besar menjadi kecil nilai pahalanya disebabkan oleh niat.”






Disebutkan dalam hadis dari Umar bin Khattab yang terkenal, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:






ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍْﻷَﻋْﻤَﺎﻝُ ﺑِﺎﻟﻨِّﻴَّﺎﺕِ، ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣَﺎ ﻧَﻮَﻯ
ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻫِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ ﻓَﻬِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟِﻪِ
ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻫِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﻟِﺪُﻧْﻴَﺎ ﻳُﺼِﻴْﺒُﻬَﺎ ﺃَﻭِ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻳَﻨْﻜِﺤُﻬَﺎ
ﻓَﻬِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﺎ ﻫَﺎﺟَﺮَ ﺇِﻟَﻴِﻪِ






“Sesungguhnya (pahala) segala amalan itu (hanya) tergantung pada niat; dan sesungguhnya bagi tiap- tiap orang (hanya akan memperoleh ganjaran pahala sesuai dengan) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (karena menaati) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya.
Barangsiapa hijrahnya karena (mencari keuntungan) dunia yang dia harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”






Sehingga orang yang berhijrah karena dunia tersebut, hanya mendapatkan dunia yang menjadi niatnya sejak awal dan tidak dapat agungnya pahala hijrah di sisi Allah. Bahkan, niat yang salah akan membuat ibadah menjadi sebab masuk ke Neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang diriwayakan Abu Hurairah dalam Shahih Muslim.





إنّ أَوّلَ النّاسِ يُقْضَىَ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ
فَأُتِيَ بِهِ فَعَرّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟
قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتّىَ اسْتُشْهِدْتُ
قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ
فَقَدْ قِيلَ، ثُمّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىَ وَجْهِهِ حَتّىَ أُلْقِيَ فِي النّارِ
وَرَجُلٌ تَعَلّمَ العِلْمَ وَعَلّمَهُ وَقَرَأَ القُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا
قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلّمْتُ العِلْمَ وَعَلّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ القُرْآنَ
قَالَ: كَذَبْتَ وَلََكِنّكَ تَعَلّمْتَ العِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ
وَقَرَأْتَ القُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ، فَقَدْ قِيلَ
ثُمّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىَ وَجْهِهِ حَتّىَ أُلْقِيَ فِي النّارِ
وَرَجُلٌ وَسّعَ الله عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ المَالِ كُلّهِ
فَأُتِيَ بِهِ فَعَرّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟
قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إلاّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ
وَلََكِنّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ
ثُمّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىَ وَجْهِهِ، ثُمّ أُلْقِيَ فِي النّارِ





“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada Hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang mati syahid. Ia dihadapkan (kepada Allah), lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Kamu berperang agar namamu disebut-sebut sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

“Selanjutnya adalah orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran. Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya telah mempelajari ilmu mengajarkannya, dan membaca Alquran karena-Mu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohongg. Akan tetapi kamu belajar agar kamu disebut-sebut sebagai orang alim dan kamu membaca Alquran agar kamu disebut-sebut sebagai seorang qari’ (pelantun Al Quran yang bagus), dan kenyataannya kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

“Kemudian seorang yang diberi keleluasan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dikaruniai beragam harta benda, lantas ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepadanya kenikmatan- kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya. Ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau berikan melainkan pasti saya berinfak karena-Mu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Akan tetapi kamu melakukan hal tersebut agar kamu disebut-sebut sebagai orang yang
dermawan. Dan kenyataan kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”





4. Hati yang Bersih.
Hati yang bersih adalah hati yang pemaaf, tidak pendendam, tidak menyimpan rasa iri, dengki, hasad, dan penyakit hati lainnya adalah amalan hati yang teramat agung. Dan tidak ada balasan bagi hati yang bersih seperti ini kecuali surga.





Mari kita renungkan hadis yang dituturkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang tertulis dalam kitab Musnad Imam Ahmad:






ﻛُﻨَّﺎ ﺟُﻠُﻮﺳًﺎ ﻣَﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ” ﻳَﻄْﻠُﻊُ
ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟْﺂﻥَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ” ﻓَﻄَﻠَﻊَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ، ﺗَﻨْﻄِﻒُ
ﻟِﺤْﻴَﺘُﻪُ ﻣِﻦْ ﻭُﺿُﻮﺋِﻪِ، ﻗَﺪْ ﺗَﻌَﻠَّﻖَ ﻧَﻌْﻠَﻴْﻪِ ﻓِﻲ ﻳَﺪِﻩِ ﺍﻟﺸِّﻤَﺎﻝِ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ
ﺍﻟْﻐَﺪُ، ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻣِﺜْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ، ﻓَﻄَﻠَﻊَ ﺫَﻟِﻚَ
ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻣِﺜْﻞَ ﺍﻟْﻤَﺮَّﺓِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ . ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡُ ﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺚُ، ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ
ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻣِﺜْﻞَ ﻣَﻘَﺎﻟَﺘِﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ، ﻓَﻄَﻠَﻊَ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﻣِﺜْﻞِ
ﺣَﺎﻟِﻪِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻗَﺎﻡَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠﻪِ
ﺑْﻦُ ﻋَﻤْﺮِﻭ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻌَﺎﺹِ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺇِﻧِّﻲ ﻟَﺎﺣَﻴْﺖُ ﺃَﺑِﻲ ﻓَﺄَﻗْﺴَﻤْﺖُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺃَﺩْﺧُﻞَ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺛَﻠَﺎﺛًﺎ، ﻓَﺈِﻥْ ﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺃَﻥْ ﺗُﺆْﻭِﻳَﻨِﻲ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻤْﻀِﻲَ ﻓَﻌَﻠْﺖَ ؟
ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﻌَﻢْ

ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﺃَﻧَّﻪُ ﺑَﺎﺕَ ﻣَﻌَﻪُ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟﻠَّﻴَﺎﻟِﻲ ﺍﻟﺜَّﻠَﺎﺙَ، ﻓَﻠَﻢْ ﻳَﺮَﻩُ
ﻳَﻘُﻮﻡُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻏَﻴْﺮَ ﺃَﻧَّﻪُ ﺇِﺫَﺍ ﺗَﻌَﺎﺭَّ ﻭَﺗَﻘَﻠَّﺐَ ﻋَﻠَﻰ ﻓِﺮَﺍﺷِﻪِ ﺫَﻛَﺮَ
ﺍﻟﻠﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻭَﻛَﺒَّﺮَ، ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘُﻮﻡَ ﻟِﺼَﻠَﺎﺓِ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ . ﻗَﺎﻝَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠﻪِ : ﻏَﻴْﺮَ
ﺃَﻧِّﻲ ﻟَﻢْ ﺃَﺳْﻤَﻌْﻪُ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺇِﻟَّﺎ ﺧَﻴْﺮًﺍ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻣَﻀَﺖِ ﺍﻟﺜَّﻠَﺎﺙُ ﻟَﻴَﺎﻝٍ ﻭَﻛِﺪْﺕُ ﺃَﻥْ
ﺃَﺣْﻘِﺮَ ﻋَﻤَﻠَﻪُ، ﻗُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺇِﻧِّﻲ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺑَﻴْﻨِﻲ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﺃَﺑِﻲ ﻏَﻀَﺐٌ
ﻭَﻟَﺎ ﻫَﺠْﺮٌ ﺛَﻢَّ، ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻚَ ﺛَﻠَﺎﺙَ ﻣِﺮَﺍﺭٍ : ” ﻳَﻄْﻠُﻊُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟْﺂﻥَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ”
ﻓَﻄَﻠَﻌْﺖَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟﺜَّﻠَﺎﺙَ ﻣِﺮَﺍﺭٍ، ﻓَﺄَﺭَﺩْﺕُ ﺃَﻥْ ﺁﻭِﻱَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻟِﺄَﻧْﻈُﺮَ ﻣَﺎ ﻋَﻤَﻠُﻚَ،
ﻓَﺄَﻗْﺘَﺪِﻱَ ﺑِﻪِ، ﻓَﻠَﻢْ ﺃَﺭَﻙَ ﺗَﻌْﻤَﻞُ ﻛَﺜِﻴﺮَ ﻋَﻤَﻞٍ، ﻓَﻤَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺑَﻠَﻎَ ﺑِﻚَ ﻣَﺎ ﻗَﺎﻝَ
ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖَ .
ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻭَﻟَّﻴْﺖُ ﺩَﻋَﺎﻧِﻲ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖَ، ﻏَﻴْﺮَ ﺃَﻧِّﻲ ﻟَﺎ
ﺃَﺟِﺪُ ﻓِﻲ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﻟِﺄَﺣَﺪٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻏِﺸًّﺎ، ﻭَﻟَﺎ ﺃَﺣْﺴُﺪُ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻋَﻠَﻰ
ﺧَﻴْﺮٍ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺇِﻳَّﺎﻩُ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺑَﻠَﻐَﺖْ ﺑِﻚَ، ﻭَﻫِﻲَ
ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻟَﺎ ﻧُﻄِﻴﻖُ





“Kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliapun berkata : “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang penduduk surga”. Maka munculah seseorang dari kaum Anshar, jenggotnya masih basah terkena air wudhu, sambil menggantungkan kedua sendalnya di tangan kirinya. Tatkala keesokan hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan perkataan yang sama, dan munculah orang itu lagi dengan kondisi yang sama seperti kemarin. Tatkala keesokan harinya lagi (hari yang ketiga) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan perkataan yang sama dan muncul juga orang tersebut dengan kondisi yang sama pula. Tatkala Nabi berdiri (pergi) maka Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash mengikuti orang tersebut lalu berkata kepadanya : “Aku bermasalah dengan ayahku dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Jika menurutmu aku boleh menginap di rumahmu selama tiga hari?. Maka orang tersebut berkata, “Silahkan”.






“Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aaash bercerita bahwasanya iapun menginap bersama orang tersebut selama tiga malam. Namun ia sama sekali tidak melihat orang tersebut mengerjakan sholat malam, hanya saja jika ia terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur maka iapun berdzikir kepada Allah dan bertakbir, hingga akhirnya ia bangun untuk sholat subuh. Abdullah bertutur : “Hanya saja aku tidak pernah mendengarnya berucap kecuali kebaikan. Dan tatkala berlalu tiga hari –dan hampir saja aku meremehkan amalannya- maka akupun berkata kepadanya : Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya tidak ada permasalahan antara aku dan ayahku, apalagi boikot. Akan tetapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali : Akan muncul sekarang kepada kalian seorang penduduk surga”, lantas engkaulah yang muncul, maka akupun ingin menginap bersamamu untuk melihat apa amalanmu untuk aku contohi, namun aku tidak melihatmu banyak beramal. Maka apakah yang telah menyampaikan engkau sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Orang itu berkata: “Tidak ada kecuali amalanku yang kau lihat”. Abdullah bertutur: “Tatkala aku berpaling pergi maka iapun memanggilku dan berkata: Amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasad (iri) kepada seorangpun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya”. Abdullah berkata, “Inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga), dan inilah yang tidak kami mampui.”

Hati yang bersih itulah yang sebenarnya paling sulit dilakukan. Barangkali kita mampu shalat malam, sujud, rukuk di hadapan-Nya, puasa sunnah, menghabiskan waktu untuk Al Quran, berletih-letih demi dakwah Islam, tapi amat sulit menghilangkan kedengkian, sulit memaafkan, sering berprasangka buruk, sombong, merendahkan orang lain, dan penyakit hati lainnya.





5. Sabar
Sabar secara bahasa berarti al habsu yaitu menahan. Sedangkan secara syar’i, sabar adalah menahan diri dalam tiga perkara :
(1) Sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah,
(2) Sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan,
(3) Sabar dalam menerima dan menjalani takdir Allah, baik takdir yang sulit berupa musibah atau takdir yang baik berupa kesenangan dan kelapangan.





Karena keberuntungan pada hari kiamat dan keselamatan dari neraka akan mejadi milik orang-orang yang sabar. Oleh sebab itu Allah berfirman:






ﻭَﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢ ﻣِّﻦ ﻛُﻞِّ ﺑَﺎﺏٍ ﺳَﻠَﺎﻡٌ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢ ﺑِﻤَﺎ ﺻَﺒَﺮْﺗُﻢْ ۚ ﻓَﻨِﻌْﻢَ ﻋُﻘْﺒَﻰ ﺍﻟﺪَّﺍﺭِ






“Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka (di surga) dari semua pintu, (sambil mengucapkan) :’Salamun ‘alaikum bima shabartum’. (Salam Sejahtera untuk kalian atas kesabaran kalian dahulu -ketika di dunia-) Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (surga).”
[Ar-Ra’d : 23-24]





6. Tawakkal
Dari Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,






ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮَﺯَﻗَﻜُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﺮْﺯُﻕُ
ﺍﻟﻄَّﻴْﺮَ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻﺎً ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧﺎً






“ Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”





Tawakkal adalah sifat yang mulai luntur dari hati-hati insan beriman di akhir zaman ini. Mungkin itulah salah satu hikmah kenapa dalam Al Quran, Allah sering sekali mengulang-ulang perintah untuk bertawakal kepada Allah. Sifat tawakal akan sulit ditemukan di hati pegawai dan karyawan yang biasa menerima gaji di akhir bulan. Karena dia berangkat kerja dengan 'rasa tenang' karena 'pasti' akan menerima gaji di akhir bulan. Sifat ini juga mudah hilang di hati orang-orang yang memiliki jaminan kesehatan yang marak sekarang ini. Karena dia merasa tenang karena 'ada yang menjamin' hidupnya ketika kesulitan dan musibah datang. Sehingga bisa saja seorang muslim yang sehari-harinya menjual cilok di bawah terik matahari akan memanen pahala tawakal yang besar di sisi Allah karena dia hanya menggantungkan harapan dan jaminan biaya hidupnya pada Allah. Pahala yang dia panen bisa saja mengungguli pahala seorang ustaz yang kehilangan tawakalnya karena biaya hidupnya beserta keluarganya sudah dijamin dan dicukupi oleh yayasan atau lembaga dakwah tempat ia bernaung. Nas'alullah al 'afiyah.






7. Rasa Takut kepada Allah
Allah Ta’ala berfirman:





إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ






“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28)

Selain itu, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu’alahi Wasallam bersabda kepada para sahabat beliau:





لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا ، ولبكيتم كثيرا





“Demi Allah, andai kalian tahu apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.






8. Qanaah





Secara sederhana qana’ah adalah merasa cukup dengan apapun dan seberapapun dari nikmat yang Allah beri. Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al-Anshary, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,





مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ
فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا





“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi)






Dalam Sunan Ibnu Majah, Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :






ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻫَﻤَّﻪُ ، ﻓَﺮَّﻕَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮَﻩُ
ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﻓَﻘْﺮَﻩُ ﺑَﻴْﻦَ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ ِ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺗِﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ
ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓُ ﻧِﻴَّـﺘَﻪُ ، ﺟَﻤَﻊَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺃَﻣْﺮَﻩُ ، ﻭَﺟَﻌَﻞَ
ﻏِﻨَﺎﻩُ ﻓِﻲْ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ، ﻭَﺃَﺗَﺘْﻪُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻫِﻲَ ﺭَﺍﻏِﻤَﺔٌ






"Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai- beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”









Dari berbagai sumber.





Ditulis oleh Abu Osamah (Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz