Hukum Behel Gigi


PERTANYAAN:
Bolehkan seorang memasang kawat gigi?





JAWAB:





سئل الشيخ صالح الفوزان عن تقويم الأسنان فقال





إذا احتيج إلى هذا كأن يكون في الأسنان تشويه واحتيج إلى إصلاحها
فهذا لا بأس به ، أما إذا لم يُحتج إلى هذا فهو لا يجوز
بل جاء النهي عن وشر الأسنان وتفليجها للحسن وجاء الوعيد
على ذلك لأن هذا من العبث ومن تغيير خلق الله





أما إذا كان هذا لعلاج مثلاً أو لإزالة تشويه أو لحاجة لذلك
كأن لا يتمكن الإنسان من الأكل إلا بإصلاح الأسنان وتعديلها فلا بأس بذلك





فتاوى الشيخ صالح الفوزان





Syaikh Shalih Al Fauzan pernah ditanya tentang hukum meratakan gigi, beliau menjawab:





"Jika dibutuhkan untuk melakukan hal itu semisal mengganggu gigi serta memang butuh untuk diperbaiki, maka tidaklah mengapa. Adapun jika tidak ada kebutuhan untuk melakukan hal itu maka tidaklah boleh, bahkan terdapat satu larangan untuk mengikir serta meratakan gigi, jika dalam rangka untuk kecantikan, dan juga terdapat ancaman akan hal itu, karena termasuk bentuk kesia-sian (menghambur-hamburka harta) dan juga merubah ciptaan Allah."





"Adapun jika perbaikan gigi dilakukan dalam rangka untuk menghilangkan gangguan pada gigi atau karena memang adanya satu keharusan untuk itu, semisal tidaklah memungkinkan bagi seseorang untuk bisa makan kecuali jika dengan memperbaiki posisi gigi serta meratakannya, maka hal itu tidaklah mengapa.''





Fatwa Syaikh Sholeh Al-Fauzan





قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله





تقويم الأسنان على نوعين 





النوع الأول: أن يكون المقصود به زيادة التجمُّل فهذا حرام
ولا يحل وقد لعن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم
المتفلجات للحسن المغيرات لخلق الله
هذا مع أن المرأة مطلوب منها أن تتجمل
وهي من يُنشأ في الحلية، والرجلُ من باب أولى أن يُنهَى عن ذلك





النوع الثاني: إذا كان تقويمها لعيب فلا بأس بذلك
فيها فإن بعض الناس قد يبرز شيء من أسنانه إما الثنايا أو غيرها
تبرز بروزاً مُشيناً بحيث يستقبحه من يراه ففي هذا الحال
لا بأس من أن يُعدلها الإنسان
لأن هذا إزالة عيب وليس زيادة تجميل
ويدل لهذا أن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم
أمر الرجل الذي قُطع أنفه أن يتخذ أنفاً من وَرِق -أي فضة- ثم أنْتَنَ فأمره أن يتخذ أنفاً من ذهب
لأن في هذا إزالة عيب وليس المقصود زيادة تجمُل





اذن القاعدة عندنا ان تغيير خلق الله للتجميل لا يجوز
و تغيير خلق الله ازالة للعيب جائز، هذا ضابط
انتهى
مجموع فتاوى ورسائل ج ١٧ و شرح بلوغ المرام شريط ١٣





Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:





Merapikan gigi ada dua macam:





Pertama: Merapihkan/Meratakan gigi jika dengan tujuan untuk menambah kecantikan, maka ini diharamkan dan tidak halal, Nabi melaknat wanita yang meratakan giginya untuk kecantikan serta melaknat wanita yang merubah ciptaan Allah.* Namun bersamaan dengan ini seorang wanita tetap dituntut untuk berdandan dengan menampakan bagian yang biasa untuk berhias, dan laki-laki tentu lebih utama untuk dilarang dari melakukan itu.





Kedua: "Apabila merapihkan gigi dilakukan karena adanya cacat/ aib maka tidaklah mengapa melakukan hal itu, sebagian orang terkadang tampak menonjol giginya, bisa pada bagian gigi depannya atau bagian lainya, di mana tampilan tersebut membuat tidak enak dipandang bagi orang yang melihatnya, maka jika keadaanya demikian tidaklah mengapa ia merapihkan giginya, karena hal ini dilakukan untuk menghilangkan aib/ cacat bukan dalam rangka untuk menambah kecantikan, dalil akan hal ini adalah bahwasanya Nabi Shallalllahu alaihi wa sallam pernah memerintahkan seseorang yang terpotong hidungya untuk menutupnya dengan perak, kemudian hidung orang tersebut membusuk lantas Nabi pun memperintahkan untuk menggantinya dengan tutup hidung emas. Maka hal ini dilakukan dalam rangka untuk menghilangkan cacat dan tujuannya bukanlah untuk menambah kecantikan.





Maka kaidahnya dari kami adalah bahwa merubah ciptaan Allah jika dalam rangka untuk menambah kecantikan tidaklah boleh, namun merubah cipataan Allah jika untuk menghilangkan cacat/ aib maka diperbolehkan, inilah kaidahnya.
Selesai.





Majmu Fatwa wa Rasail dan Syarh Bulughul Maram kaset ke 13









لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُوتَشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ *





Artinya: “Allah melaknat wanita-wanita yang membuat tato dan yang minta dibuatkan tato, yang mencukur alis dan yang merenggangkan gigi (merapikah) untuk kecantikan, yang mereka itu mengubah-ubah ciptaan Allah”. (Hadis Abdullah bin Masud dalam Shahih Bukhari)









Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.





Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz