Keputihan, Najiskah?


PERTANYAAN:
Keputihan, Najiskah?

JAWAB:





Hukum Keputihan Yang Keluar dari Kemaluan Wanita,





 حكم الإفرازات التي تخرج من فرج المرأة





فمذهب أبي حنيفة وأحمد وإحدى الروايتين عن الشافعي –وصححها النووي- أنها طاهرة





واختار هذا القول الشيخ ابن عثيمين ، رحم الله الجميع





قال الشيخ ابن عثيمين في الشرح الممتع 1 - 457





وإذا كانت –يعني هذه الإفرازات- من مسلك الذكر فهي طاهرة
لأنها ليست من فضلات الطعام والشراب ، فليست بولاً
والأصل عدم النجاسة حتى يقوم الدليل على ذلك
ولأنه لا يلزمه إذا جامع أهله أن يغسل ذكره ، ولا ثيابه إذا تلوثت به
ولو كانت نجسة للزم من ذلك أن ينجس المني ، لأنه يتلوث بها" اهـ





وقال أيضاً 11/285





أما اعتقاد بعض النساء أنه لا ينتقض الوضوء
فهذا لا أعلم له أصلا إلا قول ابن حزم
ولكن إذا كانت هذه الرطوبة تنزل من المرأة باستمرار
فإنها تتوضأ لكل صلاة بعد دخول وقتها
ولا يضرها نزول هذه الرطوبة بعد ذلك ، ولو كانت في الصلاة





Madzhab Abu Hanifah, Ahmad dan salah satu riwayat dari Imam Syafi'i dan juga disahihkan oleh An-Nawawi, bahwasanya keputihan hukumnya suci. Dan ini juga pendapat yang dipilih oleh Syaikh Utsaimin rahimahumullahul jami'.

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata dalam Kitab Syarhul Mumti' 1/475 :





"Jika cairan keputihan keluar dari tempat jalannya zakar maka statusnya suci, karena bukanlah termasuk hasil metabolisme makanan dan minuman, tidak seperti air kencing, maka hukum asalnya (keputihan) tidaklah najis, sampai datang dalil yang menerangkan (tentang status kenajisannya), oleh karenanya tidak wajib membasuh kemaluan bagi suami setelah menyetubuhinya, tidakpula membasuh pakaian yang terkena dari cairan tersebut, dan seandainya cairan keputihan itu najis maka hal itu akan juga mengharuskan menajiskan air mani, karena air mani juga mengenai cairan keputihan."





Beliau juga berkata dalam kitab yang sama (11/285):





"Adapun keyakinan sebagian kaum wanita bahwa keputihan dapat membatalkan wudhu maka aku sendiri tidak mengetahui dasarnya (dalilnya), kecuali pendapat Ibnu Hazm. Akan tetapi jika keputihan keluar dari perempuan secara terus-menerus, maka hendaknya ia berwudhu setiap masuk waktu shalat, dan tidaklah mengapa jika keputihan keluar setelah itu, meskipun keluar dalam keadaan shalat."









Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.





Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz