Tata Cara Mandi Junub


PERTANYAAN:
Bagaimana tata cara mandi junub/ mandi wajib?

JAWAB:
Syaikh Bin Baz pernah menjelaskan hal ini,





قال الشيخ ابن باز رحمه الله





أولاً: المرأة تستنجي من حيضها ونفاسها
ويستنجي الرجل الجنب والمرأة الجنب
ويغسل كل منهما ما حول الفرج من آثار الدم أو غيره
ثم يتوضأ كل منهما وضوءه للصلاة الحائض، والنفساء، والجنب
يتوضأ وضوء الصلاة، ثم بعد ذلك يفيض الماء على رأسه ثلاث مرات
ثم على بدنه على الشق الأيمن، ثم الأيسر، ثم يكمل الغسل
هذه هي السنة، وهذا هو الأفضل
وإن صب الماء على بدنه مرة واحدة
كفى وأجزأ ذلك في الغسل من الجنابة والحيض والنفاس





ويستحب للمرأة في غسل الحيض والنفاس أن تغتسل بماء وسدر
هذا هو الأفضل. أما الجنب فلا يحتاج للسدر
والماء يكفي، سواء كان اغتساله من الصنبور أو من الدش
أو بالغرف من الحوض، أو من إناء
أو غير ذلك، كله جائز والحمد لله





فتاوى الشيخ ابن باز رحمه الله





Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:





"Pertama, bagi perempuan hendaknya ia ber-istinja'/ cebok dari haid dan nifasnya, demikian pula bagi laki-laki dan perempuan yang junub. Kemudian seseorang membasuh area sekitar kemaluannya dari bekas darah atau yang lainnya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, yakni perempuan haid, nifas, dan orang yang junub hendaknya ia berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian setelah itu ia guyurkan air dari atas kepalanya sebanyak tiga kali, kemudian ia basuh badan bagian kanannya, dan setelahnya ia basuh badan bagian kirinya, kemudian barulah ia sempurnakan mandinya. Inilah mandi yang sesuai sunnah dan inilah yang sempurna. Namun apabila ia mengguyurkan air ke seluruh badannya dengan sekali guyuran (yang mana air merata mengenai seluruh tubuh, red) maka hal itu sudah mencukupi, serta sudah sah dari mandi junub maupun mandi suci dari haid dan nifas."





"Dan disukai bagi perempuan yang mandi suci dari haid dan nifas, untuk mandi dengan campuran air daun bidara, ini lebih utama. Adapun bagi orang yang junub maka tidak perlu menggunakan air campuran bidara, cukup dengan air saja, baik ia mandi dari air kran maupun shower, atau menciduk air dengan gayung dari air kolam, atau ember atau yang lainnya, semuanya dibolehkan alhamdulillah.''





Fatwa Syaikh Ibnu Baz






ijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.





Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya. 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz