Makna Sebaik-Baik Bid'ah
PERTANYAAN:
Apa maksud perkataan Umar bahwa shalat tarawih adalah sebaik-baik bid'ah?
JAWAB:
Mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah bukanlah satu hal yang bid'ah dan tidak ada satupun ulama yang mengatakan bahwa shalat tarawih berjamaah adalah satu hal yang bid'ah (yang dilarang dalam hadis Nabi). Dalam hadist Aisyah di bawah ini dengan jelas Nabi mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah hingga hari ketiga pada bulan Ramadhan. Namun karena beliau khawatir dengan banyaknya yang hadir hal tersebut akan dijadikan satu hal yang dianggap wajib maka beliau pun menghentikan berjamaah tarawih.
عن عائشة رضي الله عنها قالت
أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ
فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ
فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ
فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ
فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ
فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَطَفِقَ رِجَالٌ مِنْهُمْ يَقُولُونَ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ
قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ لَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا
متفق عليه
Dari Aisyah beliau berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar di tengah malam dan melakukan Shalat di Masjid, kemudian orang-orang dari para sahabat nabi mengikutinya Shalatnya Rasulullah (berjama’ah), di keesokan harinya orang-orang pada membicarakan hal tersebut, maka orang-orang yang berkumpul makin banyak kemudian Rasulullah SAW keluar pada malam yang kedua dan esok harinya orang-orang membincangkan hal tersebut, hingga pada malam ketiga orang-orang di Masjid bertambah banyak kemudian Rasulullah SAW keluar untuk Shalat bersama mereka, akan tetapi pada malam keempat Masjid tidak mampu menampung para sahabat, maka Rasulullah SAW tidak keluar, kemudian ada seseorang yang berkata : Shalat! Namun demikian Rasulullah tidak keluar sampai pada akhirnya beliau keluar di waktu Shalat Shubuh, setelah melakukan Shalat beliau menghadap kepada orang-orang kemudian membaca Syahadat dan bersabda: “Amma ba'du, sungguh aku mengetahui apa yang kalian lakukan semalam, akan tetapi aku khawatir Shalat Malam (Tarawih) tersebut diwajibkan atas kalian kemudian kalian tidak mampu melaksanakannya”.
Adapun yang di maksud oleh Umar dengan mengatakan, “Ini adalah sebaik-baiknya bid'ah.” Maksudnya adalah bid’ah dari sisi bahasa karena beliau adalah orang pertama yang menghidupkan sunnah Nabi setelah lama ditinggalkan. Adapun pada masa khalifah Abu Bakar yang hanya berlangsung selama dua tahun dan pada masanya beliau umat Islam disibukkan dengan memerangi orang yang murtad sepeninggal Nabi. Sehingga pada masa Umarlah kesempatan menghidupkan tarawih berjamaah bisa terlaksana. Sehingga apa yang dikatakan umar bukanlah bid'ah secara syariat yang terlarang. Saya bawakan penjelasan ulama kibar syafiiyah menjelaskan duduk masalah ini.
قال ابن حجر الهيتمي
وقول عمر رضي الله عنه في صلاة التراويح " نعمت البدعة هي " أراد البدعة اللغوية
وهو ما فعل على غير مثال كما قال تعالى {ما كنت بدعا من الرسل } وليست بدعة شرعية
فإن البدعة الشرعية ضلالة كما قال صلى الله عليه وسلم ومن قسمها
من العلماء إلى حسن وغير حسن
فإنما قسم البدعة اللغوية ومن قال كل بدعة ضلالة فمعناه البدعة الشرعية
الفتاوى الحديثية 1/ 200
Ibnu Hajar Al Haitsami berkata:
"Perkataan Umar tentang shalat tarawih yakni "Ini adalah sebaik-baik bid'ah." yang ia maksud adalah bid'ah secara bahasa saja, yakni perbuatan yang dikerjakan tanpa contoh sebelumnya, sebagaimana firman Allah: "Dan aku bukanlah Rasul yang pertama dari para Rasul.'' Yang dimaksud beliau bukanlah bid'ah secara syariat karena bid'ah dalam syariat adalah sesat sebagaimana sabda Rasulullah shallAllahu alaihi wa sallam, maka para ulama yang membagi bid'ah menjadi bid'ah hasanah dan bid'ah sayyiah maka berarti pembagian bid'ah (hasanah) yang dimaksud adalah bid'ah secara bahasa, dan jika para ulama mengatakan bahwa setiap bid'ah adalah sesat maka berarti yang dimaksud maknanya adalah bid'ah secara syariat."
.
Fatwa Al Haditsiyyah 1/200.
Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.
Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Komentar
Posting Komentar