Hukum Memakan Kodok
PERTANYAAN:
Apa hukum mengkonsumsi swike (katak)?
JAWABAN:
فعن عبد الرحمن بن عثمان : (أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِي دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِهَا) رواه أبو داود ( 3871 ) ، وصححه الألباني في صحيح أبي داود
قال ابن عثيمين في شرح بلوغ المرام ( كتاب الأطعمة ، شريط رقم 2 ) – بعد أن ذكر حديث استئذان الطبيب في استعمال الضفدع في العلاج قال
الضفدع : دويبة معروفة ، تعيش في البر ، وتعيش في الماء
وهذا الطبيب سأل النبي صلى الله عليه وسلم عنها ليجعلها دواء ، فنهى عن قتلها
وإذا نهى عن قتلها : صارت حراماً
لأنه من القواعد المقررة : أن من طرق تحريم الحيوانات : ما أُمر بقتله
أو ما نُهيَ عن قتله ، وعلى هذا : فيكون الضفدع حراماً
لا يجوز قتله - انتهى
Dari Abdurrahman bin Utsman : "Bahwa ada seorang tabib/dokter yang bertanya kepada Nabi shallahu alaihi wa sallam tentang kodok yang dijadikan sebagai obat, maka Nabi shallahu alaihi wa sallam kemudian melarang sang tabib untuk membunuh kodok. Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3871 dan disahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud.
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata dalam Syarh Bulughul Maram ''Kitab Ath'imah kaset no.2'' setelah beliau membawakan hadist permintaan izinya seorang tabib untuk menjadikan kodok sebagai obat, beliau berkata:
"Kodok adalah jenis amphibi yang telah ma'ruf diketahui, hidup di darat dan air, dan sang tabib (dalam hadis di atas) menanyakan kepada Nabi shallahu alaihi wa sallam mengenai status kodok untuk dijadikan obat, maka Nabi melarang untuk membunuh kodok, jika satu hal dilarang untuk dibunuh maka menjadi haramlah hal tersebut, karena termasuk kaidah yang telah ditetapkan, bahwasanya diantara sebab/ cara binatang diharamkan adalah "Karena adanya perintah untuk membunuh atau larangan untuk membunuhnya, oleh karenanya status kodok menjadi diharamkan, tidak boleh membunuhnya."
Selesai.
Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.
Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Komentar
Posting Komentar