Kenapa Wanita tidak Diperintahkan Meng-qadha Shalat?
PERTANYAAN:
Ada hal yang saya mau tanya dan minta pencerahan tentang masalah berikut :
Kita ketahui bersama dan setuju bahwa bagi umat muslim, perintah sholat 5 waktu adalah derajat yang paling tertinggi dibandingkan perintah untuk berpuasa.
Tapi, mengapa wanita yang mengalami haid saat berpuasa, wajib mengganti puasanya tersebut?
Sedangkan sholat yang dia tinggalkan akibat haid kok tidak wajib digantikan ?
JAWABAN
Jawaban Syaikh Sholih bin Fauzan;
السؤال
هل يلزم المرأة قضاء صلوات الأيام التي لم تصلها أثناء وجود الدورة الشهرية؟
الإجابة
ليس على المرأة قضاء الصلوات التي مرت بها وهي في الدورة الشهرية
لأن الصلاة لم تجب عليها في تلك الحال
وقد قالت أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها لما سئلت عن ذلك: كان يصيبنا ذلك فنؤمر بقضاء الصيام ولا نؤمر بقضاء الصلاة
.رواه الإمام مسلم في صحيحه
وذلك لأن الصيام لما كان لا يتكرر كثيراً أمرت بقضائه
بخلاف الصلاة فإنها تكرر في اليوم والليلة خمس مرات
فأعفيت الحائض من قضائها تخفيفاً عنها
التصنيف: فقه الطهارة
Sumber: islamway.net
Pertanyaan :
Apakah diwajibkan bagi wanita meng-qadha’ (mengganti) sholat pada hari hari yang dia tidak melakukan sholat disebabkan datang bulan (haid)?
Jawaban:
Tidak ada kewajiban bagi wanita mengganti shalat - shalat yang terlewat darinya ketika dia mengalami datang bulan (haid), karena pada saat itu shalat tidak wajib baginya. Ummul mukminin Aisyah Radhiyallahu 'anha ketika dia ditanya tentang hal tersebut berkata: "Kami mengalami haid, kami diperintahkan meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan meng-qadha sholat (HR. Muslim dalam shahihnya). Hal tersebut karena kewajiban puasa tidaklah terus menerus ,berbeda dengan sholat yang kewajibannya 5 kali sehari semalam maka wanita (termaafkan) tidak wajib meng-qadha sebagai keringanan baginya.
Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.
Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Komentar
Posting Komentar