Bolehkan Memotong Jenggot?


PERTANYAAN:





Bolehkan memotong jenggot dengan model-model tertentu, misalkan hanya menyisakan di dagunya saja?





JAWAB:





Meninggalkan hanya menyisakan di dagu saja berarti sama ia telah memotongnya. Sebagian ulama menghukumi makruh, sebagian lagi menghukumi haram.





قال الإمام النووي في شرحه حديث: احْفُوا الشوارب واعْفوا اللِّحَى إنه وردت رواياتٌ خمسٌ في ترْك اللحْية، وكلها على اختلافها في ألفاظها تدلُّ على ترْكها على حالها
شرح صحيح مسلم للنووي





Berkata An Nawawi ketika menjelaskan hadis tentang perintah memotong kumis dan memanjangkan jenggot, terdapat 5 riwayat tentang perintah membiarkan jenggot (tidak memotongnya), keseluruhnya meski berbeda lafadznya menunjukkan perintah untuk membiarkan jenggot sesuai kondisinya (tidak memotongnya).

Syarh Shohih Muslim An Nawawi.

Ulama yang mengharamkan berpendapat bahwa perintah dalam hadis-hadis Nabi difahami sebagai makna wajib sebagaimana dalam kaidah Ushul Fiqh:





الامر يفيد الوجوب





Perintah itu bermakna wajib.
Adapun ulama yang menghukumi makruh mereka memahami hadis-hadis tentang membiarkan jenggot tumbuh dengan kaidah:





فإن الأمر لا يدل على الوجوب جزما وإن علل بمخالفة الكفار
الحكم تدور مع العلة عدما و وجودا





Perintah itu tidak berarti wajib dan ‘illah (sebab pengharamannya) adalah menyelisihi orang kafir.
Dan berlakunya hukum itu mengikuti ada dan tidaknya ‘illah.

’Illah dalam hadis di atas di masa sekarang tidaklah ada dan ini adalah pendapat sebagian Syafiiyah di masa-masa sekarang, termasuk pendapat saudara kita dari kalangan Nahdiyyin, jadi mereka berpendapat hukumnya makruh.

Diantaranya termaktub dalam kitab mereka yg sangat masyhur yakni kitab I'anatut Tholibin sebagai berikut,





قال شطا الدمياطي في حاشيته النفيسة في المذهب "إعانة الطالبين" 2 / 240
 عند قول الشارح  (ويحرم حلق اللحية) ما نصه
المعتمد عند الغزالي وشيخ الإسلام _ أي القاضي زكريا الأنصاري كما هو اصطلاح المتأخرين وابن حجر في التحفة والرملي والخطيب _ أي الشربيني _ وغيرهم الكراهة





Terjemahan yang di-bold:
“Pendapat yang mu’tamad (kuat) menurut Al Ghazali, Syaikhul Islam Qadhi Zakarya Al Anshori, dan juga Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah, Ar Romli dan Al Khotib Asy Syarbini, dan yang selain mereka, sebagaimana itu adalah pendapat ulama belakangan ini bahwasanya hukumnya (memotong jenggot) makruh. "

Jadi, ya sebagaimana yang kita saksikan, warga Nahdiyin jarang yang berjenggot. Padahal maha guru mereka di Yaman seperti Habib Umar al Hafidz berjenggot, guru mereka yang di Mekkah seperti Syaikh Alwi Al Maliki juga berjenggot lebat, bahkan pendiri NU kyai Hasyim Asy’ari juga berjeggot.

Dan sudah pernah saya tanyakan langsung ke Syaikh Ali al Maqromi Asy Syafii. Beliau ulama Syafiiyah dari Madinah dan biasa mengisi kajian fikih Syafii di masjid Nabawi dan beliau menjawab:





“Sebagian ulama membolehkan merapihkan atau memendekan jika jenggot sudah lebih dari satu kepalan tangan.” -selesai-





Barangkali beliau berdalil dengan perbuatan ibnu Umar sebagaimana diriwayatkan oleh imam Uukhori berikut





 روى البخاري (5892) : وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا حَجَّ أَوْ اعْتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ فَمَا فَضَلَ أَخَذَه





Bukhari meriwayatkan no.5892: " Adalah ibnu Umar jika beliau berhaji atau umroh maka beliau menggenggam jenggotnya,jika melebihi satu genggam jenggotnya maka beliau memangkasnya."

Syaikh bin Baz dalam fatawa beliau memberikan jawaban kepada para ulama yang berdalil dengan perbuatan ibnu Umar di atas, beliau mengatakan sebagai berikut:





قال الشيخ ابن باز : من احتج بفعل ابن عمر رضي الله عنهما أنه كان يأخذ من لحيته في الحج ما زاد على القبضة . فهذا لا حجة فيه ، لأنه اجتهاد من ابن عمر رضي الله عنهما ، والحجة في روايته لا في اجتهاده . وقد صرح العلماء رحمهم الله : أن رواية الراوي من الصحابة ومن بعدهم الثابتة عن النبي صلى الله عليه وسلم هي الحجة ، وهي مقدمة
على رأيه إذا خالف السنة
فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز
(8/370)









Syaikh bin Baz berkata: "Barangsiapa yang berargumen dengan praktek ibnu Umar dimana beliau memangkas kelebihan jenggotnya yg melebihi satu genggaman pada saat haji, maka itu bukanlah hujjah (dalil), karena itu adalah ijtihad (pendapat pribadi) dari Ibnu Umar, dan hujjah berlaku pada riwayatnya bukan pada ijtihad-nya, para ulama menjelaskan: "Bahwa riwayatnya rawi dari kalangan para sahabat maupun orang-orang setelah mereka yang telah ditetapkan bahwa riwayat itu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam itulah hujjah (dalil), dan ini didahulukan atas pendapat (orang yang meriwayatkan) jika pendapatnya menyelisihi sunnah.''





Fatwa wa Maqalat Syaikh bin Baz (8/370)











Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.





Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz