Isbal ketika sedang Tidur


PERTANYAAN:
Bagaimana jika celana panjangnya yang menutupi mata kaki hanya untuk tidur saja?





JAWAB:
Sebagian
ulama menghukumi makruh berdalil bahwa
hadist hadis tentang pelarangan isbal
senantiasa di-taqyid (dikaitkan)
dengan kata "sombong'',
artinya jika seseorang isbal namun ia tidak
berniat sombong maka tidak termasuk
dalam pelarangan, sebagaimana mazhab
Syafiiyyah,
hanabilah dan hanafiyyah.





Isbal
menurut Syafiiyyah





*Isbal:
Nenjulurkan kain/
sarung/ celana sampai menutupi mata
kaki..





قال الإمام الشافعي رحمه الله – كما نقله عنه النووي في "المجموع" (3/177) : لا يجوز السدل في الصلاة
ولا في غيرها للخيلاء ، فأما السدل لغير الخيلاء في الصلاة فهو خفيف
لقوله صلى الله عليه وسلم لأبي بكر رضى الله عنه وقال له : إن إزاري يسقط من أحد شقي
فقال له : ( لست منهم ) - انتهى

وقال النووي في "شرح مسلم "لا يجوز إسباله تحت الكعبين إن كان للخيلاء
فإن كان لغيرها فهو مكروه ، وظواهر الأحاديث فى تقييدها بالجر خيلاء
تدل على أن التحريم مخصوص بالخيلاء ، وهكذا نص الشافعى على الفرق - انتهى

واختار بعض الشافعية – كالذهبي والحافظ ابن حجر – القول بالتحريم
كما قال الذهبي في- سير أعلام النبلاء





Imam Syafi'i berkata sebagaimana dinukil oleh An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' (3/177) :
"TIDAK BOLEH isbal dalam sholat maupun diluar sholat karena sombong, adapun isbal selain karena sombong dalam sholat maka ini ringan kedudukannya, sebagaimana sabda nabi kepada Abu Bakar radiyallahuanhu beliau berkata kepada Nabi: "Sesungguhnya kainku melorot dari salah satu betisku," Nabi berkata kepadanya: "Engkau bukanlah termasuk diantara mereka (yang sombong).''

Selesai...

Imam An-Nawawi berkata dalam Syarh muslim (14/62):
"Tidak boleh isbal sampa menutupi mata kaki jika karena sombong, namun jika karena yang lainnya maka hal itu DIBENCI (makruh) dan tampak pada beberapa hadist tersebut mengaitkan isbal dangan kesombongan, maka ini menunjukkan bahwa pengharaman isbal dikhususkan karena sebab sombong, demikian pula yang ditetapkan oleh Imam Syafii secara berbeda."

Selesai…

Sebagian ulama Syafi'iyyah seperti Imam Az Zahabi dan Al Hafiz Ibnu Hajar berpendapat akan KEHARAMAN isbal, sebagaimana diterangkan oleh Imam Az Zahabi dalam kitab Siyar A'alam Nubala (3/234).

Namun, ada pendapat ulama yang menyatakan larangan isbal secara muthlaq (apapun alasannya) sebagaimna pendapat Malikiyyah dan termasuk jumhur pendapat ulama Saudi, termasuk para ulama Lajnah Daimah (MUI-nya Arab Saudi), mereka berdalil bahwa beberapa hadis larangan isbal tidak selalu di-taqyid denga kata sombong. Sehingga pengharamanya bersifat muthlaq tanpa ada pengecualian dalam keadaan tidur sebagaimana yang antum tanyakan.





Beberapa hadis larangan isbal tanpa Nabi taqyidatau kaitkan dengan kata sombong...





ما أسفل من الكعبين من الإزار فهو في النار - رواه البخاري في الصحيح
ثلاث لا يكلمهم الله ولا ينظر إليهم يوم القيامة ولا يزكيهم ولهم عذابٌ أليم
المسبل إزاره والمنان فيما أعطى، والمنفق سلعته بالحلف الكاذب رواه مسلم في الصحيح
وأخرج الطبراني من حديث الشريد الثقفي
قال: أبصر النبي صلى الله عليه وسلم رجلاً قد أسبل إزاره
فقال: "ارفع إزارك" فقال : إني أحنف تصطك ركبتاي
قال: ارفع إزارك فكل خلق الله حسن





“Segala sesuatu (berupa pakaian) yang berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka.” Diriwayatkan Bukhari dalam Kitab Shahih.

Nabi bersabda, “Tidak kelompok manusia yang Allah tidak akan mengajak mereka bicara, Allah tidak akan melihat mereka pada Hari Kiamat, Allah juga tidak akan men-sucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, yaitu musbil yang menjulurkan pakaiannya (sampai bawah mata kaki), orang yang senantiasa mengungkit-ungkit apa yang telah dia sedekahkan, dan orang yang melariskan daganganya dengan sumpah palsu.” Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih.

Ath Thabari mengeluarkan hadis dari Syarid bahwa dia berkata, “Rasulullah melihat seorang pemuda telah menjulurkan kain sarungnya (melebihi mata kaki).” Beliau berkata kepadanya, ”Angkatlah sarungmu!” Dia berkata, “Kakiku bengkok dan lututkum tidak seimbang.” Beliau bersabda, “Angkat sarungmu, karena semua ciptaan Allah itu baik.”

Posisi tepat dan tidak termasuk isbal di jelaskan Nabi sebagaimana dalam riwayat hudzaifah berikut:






عَنْ
حُذَيْفَةَ قَالَ:
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«مَوْضِعُ
الْإِزَارِ إِلَى
أَنْصَافِ
السَّاقَيْنِ
وَالْعَضَلَةِ،
فَإِنْ أَبَيْتَ
فَأَسْفَلَ، فَإِنْ
أَبَيْتَ فَمِنْ
وَرَاءِ السَّاقِ،
وَلَا حَقَّ
لِلْكَعْبَيْنِ
فِي الْإِزَارِ»
الصحيحة
برقم 2366










Rasulullah bersabda, “Posisi kain sarung (dan sejenisnya) berapa di tengah-tengan betis pada tonjolan dagingnya, jika enggan dengan itu, maka turunkan lagi, jika masih enggan maka maka sampai bawah betis, namun sarung tidak boleh berada dibawah mata kaki.

Dalam kitab Aunul Ma'bud ala Syarhi Sunan Abi Dawud setelah membawakan riwayat Hudzaifah di atas terdapat penjelsan sebagai berikut..






قال
فى عون
المعبود 11/95
: وَالْحَدِيثُ
يَدُلُّ عَلَى
أَنَّ الْقَدْرَ
الْمُسْتَحَبَّ
فِيمَا يَنْزِلُ
إِلَيْهِ الْإِزَارُ
هُوَ نِصْفُ
السَّاقَيْنِ
وَالْجَائِزُ
بِلَا كَرَاهَةٍ
مَا تَحْتَهُ
إِلَى الْكَعْبَيْنِ
وَمَا نَزَلَ
عَنِ الْكَعْبَيْنِ
بِحَيْثُ يُغَطِّي
الْكَعْبَيْنِ
فَهُوَ حَرَامٌ





Disebutkan dalam kitab Aunul Ma'bud 11/95: "Hadist ini menunjukan bahwasanya batas yang disunnahkan untuk kain/ sarung /celana yang menjulur yakni sampai pada pertengahan betis, dan batas yang dibolehkan tanpa makruh adalah tepat pada pada bagian dua mata kaki adapun yang menjulur hingga melewati dua mata kaki dimana kain/ sarung/ celana tersebut menutup mata kaki maka ini adalah batas yang dilarang."

Barangkali itu adalah kaidah yang paling bagus mengenai batasan batasan isbal.









Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.





Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz