Perbedaan Pendapat seputar Masalah Shalat ketika Safar


MASALAH PERTAMA: QASAR SHALAT





1. Apa Hukum Shalat Qasar?





Ulama bersepakat bahwa safar itu membolehkan seseorang melakukan qasar. Kecuali pendapat Aisyah yang sangat lemah yang mengatakan bahwa syarat qasar adalah safar yang disertai rasa takut berdalil dengan firman Allah surat An Nisa ayat 101. Syarat kondisi takut dalam surat An Nisa ayat 101 bersifat mafhum dan ada hadis yang bersifat mantuq yang menggugurkan pendapat Aisyah. Hadis yang dimaksud adalah;





ن يعلى بن أمية قال : سألت عمر بن الخطاب رضي الله عنه قلت ﴿ ليس عليكم جناح أن تقصروا من الصلاة إن خفتم أن يفتنكم الذين كفروا ﴾ وقد أمن الله الناس فقال لي عمر رضي الله عنه عجبت مما عجبت منه فسألت رسول الله صلى الله عليه و سلم عن ذلك فقال صدقة تصدق الله بها عليكم فاقبلوا صدقته - رواه أحمد





Sedangkan terkait hukum shalat qasar bagi musafir ada empat pendapat, wajib ‘ain, wajib mukhyyar(boleh qasar boleh tidak), sunnah, dan boleh qasar namun menyempurnakan shalat lebih baik. Qasar adalah sedekah dari Allah sehingga selayaknya diterima, sehingga qasar adalah ruhksah yang bisa diambil bisa tidak. Hal ini berdasarkan Hadis Ya’la bin Umayah dan Abu Qilabah:





صدقة تصدق بها الله عليكم. فاقبلوا صدقته - رواه مسلم
إن الله وضع عن المسافر الصوم وشطر الصلاة - رواه أصحاب السنن





Dan pendapat wajib berdasarkan hadis Aisyah dalam shahihain yang menunjukkan bahwa awalnya shalat dua rekaat adalah wajib, kemudian diwajibkan bagi yang safar setelah ada perintah shalat wajib tiga dan empat rekaat. Hadis yang dimaksud adalah:





فرضت الصلاة ركعتين فأقرت صلاة السفر و زيد في صلاة الحضر.





Dan pendapat sunnah dan wajib mukhayyar (bebas memilih salah satu) adalah bentuk jamak dari kedua pendapat di diatas.





Pendapat yang lebih tepat terkait hukum qasar dalam safar adalah -Allahu a’lam- sunnah dan bukan wajib berdasarkan:





  • Atsar ibnu Umar dalam Musnad Imam Ahmad




دثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى عن عيسى بن حفص حدثني أبي أنه قال : كنت مع بن عمر في سفر فصلى الظهر والعصر ركعتين ركعتين ثم قام إلى طنفسة له فرأى ناسا يسبحون بعدها فقال ما يصنع هؤلاء قلت يسبحون قال لو كنت مصليا قبلها أو بعدها لأتممتها صحبت النبي صلى الله عليه و سلم حتى قبض فكان لا يزيد على ركعتين وأبا بكر رضي الله عنه حتى قبض فكان لا يزيد عليهما وعمر وعثمان كذلك. 
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخين





  • Hadis dari Abdullah dalam shahih Bukhari




 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَكْعَتَيْنِ وَمَعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ تَفَرَّقَتْ بِكُمْ الطُّرُقُ فَيَا لَيْتَ حَظِّي مِنْ أَرْبَعٍ رَكْعَتَانِ مُتَقَبَّلَتَانِ





  • Adapun mengenai rukhsoh Nabi bersabda dala riwayat Ahmad




إن الله يحب أن تؤتي رخصة كما يكره أن تؤتى معصيته






2. Berapa Jarak Minimal Dibolehkannya Qasar?
Terdapat banyak perbedaan alam masalah ini. Malik, Syafii, Ahmad dan lain sebagainya berkata bahwa jarak untuk boleh qasar adalah jarak perjalanan seharian semalam atau empat burud. Satu burud sekitar 22 km berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas yang diriwayatkan Malik. Abu Hanifah berkata bahwa jarak minimalnya adalah jarak perjalanan tiga hari atau tiga kali lipat pendapat pertama, berdalil dengan atsar Usman dan Ibnu Mas’ud. Mazhab Zahir tidak memberi batasan jarak, sehingga boleh qasar selama disebut safar. Karena dalam safar terdapat kesulitan, meskipun kurang dari jarak perjalanan satu hari. Yang lain perpendapat dengan perkataan Umar bin Khattab:





أن النبي كان يقصر في نحو السبعة عشر ميلا - رواه مسلم.





  • Pendapat yang lebih tepat adalah -Allahu a’lam- bahwasanya jarak safar dikembalikan ke ‘urf atau adat istiadat masing-masing, karena
  • Zohir ayat membolehkan siapa saja yang sedang melakukan perjalanan di muka bumi.
  • Perkataan shahabat tentang batas jarak safar berbeda-beda dan saling bertentangan sehingga tidak bisa di jadika dalil
  • Sesuatu yang tidak dijelaskan batasnya oleh syariat, maka dikembalikan ke ‘urf. Jika manusia menganggap perginya itu sebagai safar atau berpergian maka boleh qasar dan sebaliknya.




3. Safar dengan Tujuan Apa yang Diperbolehkan untuk Qasar?
Ahmad bin Hambal berkata bahwa bolehnya qasar hanya pada safar yang tujuannya ibadah seperti haji, jihad, dll. Pendapat ini berdasarkan perbuatan Nabi. Malik dan Syafii melarang qasar jika tujuan safarnya untuk dosa dan maksiat. Karena tidak ada rukhsah bagi pelaku maksiat. Dan Abu Hanifah membolehkan qasar meskipun safarnya untuk maksiat.
Pendapat yang lebih tepat adalah -Allahu a’lam- bahwasanya semua jenis safar boleh qasar baik untuk tujuan ibadah, yang mubah, atau haram, sebagaimana pendapat Abu Hanifah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Utsaimin, karena:





  • Hadisnya umum dan tidak ada hadis dari Nabi yang membatasi jenis safar tertentu, padaha beliau tentu mengetahui bahwa zaman itu ada manusia yang safat untuk ibadah (haji, dll), untuk perkara mubah (dagang, dll) dan untuk perkara haram.
  • Hukum asal sholat wajib yang empat rakaat adalah dua rakaat, kemudian ini dijadikan shalat safar dan shalat hadhar atau muqim ditambah menjadi empat, sebagaimana hadis Aisyah. Maka seseorang yang safat meskipun bermaksiat maka dia tetap musafir, bukan muqim, sehingga berhak shalat dua rekaat bukan empat.





4. Kapan Seseorang Diperbolehkanya Memulai Melaksanakan Qasar?
Pendapat pertama boleh qasar jika sudah meninggalkan rumah terakhir suatu wilayah. Karena setelah kondisi itulah seseorang disebut musafir. Dan pendapat kedua boleh qasar setelah berjalan sejauh tiga mil dengan dalil;





كان النبي غذا خرج مسيرة ثلاثة أميال أو فراسخ صلى ركعتين. - رواه مسلم





Pendapat yang lebih tepat adalah -Allahu a’lam- bahwasanya seseorang boleh meng-qasar ketika dia suda keluar dari wilayahnya karena Nabi mulai meng-qasar ketika beliau sudah keluar dari Madinah. Anas berkata, “Aku shalat Zuhur bersama Nabi di Madinah empat rekaat dan di Zil Hulaifah dua rekaat.”





5. Berapa Hari Seseorang Boleh Qasar Shalat
Maksudnya adalah ketika seseorang menetap beberapa hari di suatu tempat karena suatu alasan, namun dia masih berstatus musafir, belum kembali ke tempat tinggalnya sebagai seorang yang mukim.
Ulama berselisih pendapat menjadi sekitar sebelas pendapat, tapi yang paling terkenal ada tiga pendapat;
1. Malik dan Syafii berpendapat wajib shalat secara sempurna jika sudah berniat tinggal empat hari atau lebih. Dengan dalil:





إنه أقام بمكة ثلاثا. - رواخ البخاري






2. Abu Hanifah berpendapat wajib shalat secara sempurna jika sudah berniat tinggal selama lima belas hari. Dengan hadis riwayat Al Bukhari.
3. Ahmad bin Hambal berpendapat wajib shalat secara sempurna jika sudah berniat tinggal lebih dari empat hari. Dengan dalil ketika Nabi singgah di Makkah.
Namun mereka sepakat apabila seseorang tidak mengetahui dengan pasti berapa lama dia akan singgah sedangkan dia masih keadaan safar, maka selama itu pula dia boleh qasar.
Pendapat yang lebih tepat adalah -Allahu a’lam- bahwasanya seorang musafir boleh terus meng-qasar selama dia masih dalam safarnya. Karena syariat tidak memberikan batasan yang jelas, maka dikembalikan ke ‘urf.





BAB TENTANG JAMA’ SHALAT






1. Apa Hukum Jama Shalat ketika Safar?

Ulama sepakat tentang sunnah men-jama’ taqdim Zuhur dan ‘Ashar di Arafah dan juga men-jama’ ta’khir Maghrib dan Isya’ di Muzdalifah. Namun mereka berselisih pendapat tentang kebolehan jama’ untuk selain dua waktu tersebut. Jumhur ulama mengatakan boleh untuk selain dua kasus di atas.







1. Apa Hukum Jama Shalat ketika Safar?

Ulama sepakat tentang sunnah men-jama’ taqdim Zuhur dan ‘Ashar di Arafah dan juga men-jama’ ta’khir Maghrib dan Isya’ di Muzdalifah. Namun mereka berselisih pendapat tentang kebolehan jama’ untuk selain dua waktu tersebut. Jumhur ulama mengatakan boleh untuk selain dua kasus di atas, dengan dalil:





 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكب





Abu Hanifah melarang jama’ selain dua kasus di atas. Selain dua kasus itu, boleh jama’ dengan Jama’ Sirr yaitu menggabungkan shalat dengan melakukan shalat pertama di akhir waktu dan shalat ke dua diawal waktu. Sebagaimana dalam hadis JIbril mengajarkan waktu shalat pada Nabi.
Pendapat yang lebih tepat adalah -Allahu a’lam- bahwasanya bolehnya jama’ untuk selain dua kondisi di atas, karena:





  • Kaidah Ushul menyebutkan





السبق إلى الذهن هو الحقيقة





”Yang pertama terbayang dalam pikiran adalah hakikat”. Yang terlintas pertama kali ketika seseorang mendengar syariat jama’ adalah menggabung shalat di salah satu waktu, bukan jama’ sirr.





  • Ada hadis sharih menerangkan bahwa jama’ tidak harus berupa jama’ sirr. Disebutkan dalam riwayat Bukhari dan di jelaskan dalam riwayat Abu Dawud.




 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

 عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم - كَانَ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِى الْمَغْرِبِ مِثْلَ ذَلِكَ إِنْ غَابَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا. قَالَ أَبُو دَاوُدَ رَوَاهُ هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ حُسَيْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ كُرَيْبٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم - نَحْوَ حَدِيثِ الْمُفَضَّلِ وَاللَّيْثِ
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم - كَانَ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِى الْمَغْرِبِ مِثْلَ ذَلِكَ إِنْ غَابَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا





  • Apabila benar maksud dari hadis-hadis tentang shalat jama’ adalah jama’ sirr, maka ini lebih berat dan menyusahkan sehingga bertentangan dengan tujuan dari syariat jama’ itu sendiri yaitu rukhsah (keringanan).




2. Bagaimana Tata Cara Menjamak?
Jumhur yang membolehkan safar selain di Arafah dan Muzdalifah juga berselisih pendapat bagaimana cara jama’ yang disyariatkan. Mazhab Maliki berkata jama’ bahwa jama’ ta’khir lebih utama dan jama’ taqdimpun tidak mengapa. Ini berdasarkan hadis Anas tersebut di muka. Mazhab Syafii mengatakan sama saja antara jama’ taqdim atau ta’khir. Karena selain hadis Anas, ada pula hadis Muadz;





أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ أَخْبَرَهُ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم - عَامَ غَزْوَةِ تَبُوكَ فَكَانَ يَجْمَعُ الصَّلاَةَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمًا أَخَّرَ الصَّلاَةَ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ دَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَ ذَلِكَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا ثُمَّ قَالَ « إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَيْنَ تَبُوكَ وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوهَا حَتَّى يُضْحِىَ النَّهَارُ فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّى آتِىَ »- رواخ مسلم






Pendapat yang lebih tepat adalah -Allahu a’lam- sama saja antara jama’ taqdim atau ta’khir karena dua cara tersebut semua disebutkan dalam hadis sebagaimana hadis Muadz dalam masalah pertama.

3. Kapan Seseorang Boleh Menjamak Shalatnya?
Jumhur yang membolehkan safar selain di Arafah dan Muzdalifah, mengatakan bahwa safar termasuk sebab bolehnya seseorang men-jama’ dua shalat. Namun mereka berbeda dalam dua masalah, yaitu:





Masalah Pertama:
Syarat bolehnya jama’ ketika safar. Imam malik berkata bahwa tidak boleh menjamak shalat kecuali apabila sedang bersungguh-sungguh (fokus) melakukan perjalanan (tidak sedang singgah). Ini berdasarkan hadis:





كان رسول الله إذا عجل به السير - رواه شيخان





Dan Imam Syafii tidak mempersyaratkan demikian, meskipun seseorang sedang singgah dan tidak sedang melakukan perjalanan namun masih dalam safar-nya (belum sampai tujuan), maka dia boleh menjama. Berdasarkan hadis Anas dan Muadz.
Dalam masalah ini pendapat yang lebih tepat adalah -Allahu a’lam- sebagaiamana pendapat Asy Syafii, karena:
1. Hadis Anas yang menunjukkan bahwa Nabi sudah menjamak sebelum beliau berangkat, yaitu ketika belum fokus dalam berpergian.
2. Hadis Muadz ketika Perang Tabuk yang menunjukkan Nabi sedang singgah dan tidak sedang fokus perjalanan.





أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ أَخْبَرَهُ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم - عَامَ غَزْوَةِ تَبُوكَ فَكَانَ يَجْمَعُ الصَّلاَةَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمًا أَخَّرَ الصَّلاَةَ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ دَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَ ذَلِكَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا ثُمَّ قَالَ « إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَيْنَ تَبُوكَ وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوهَا حَتَّى يُضْحِىَ النَّهَارُ فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّى آتِىَ »- رواخ مسلم





Masalah Kedua:
Tentang kebolehan jama’ ketika tidak safar. Jumhur mengatakan tidak boleh jamak ketika muqim kecuali ada ‘udzur dan mazhab zohiri berkata sebaliknya. Di antara ‘udzur jamak ketika muqim adalah;
A. Hujan.
Asy Syafii membolehkan jamak Zuhur dan ‘Ashar atau Magrib dan Isya’ jika hujan. Ibnu Abbas berkata:





جمع رسول الله بين الظهر و العصر و المغرب والعشاء في غير خوف ولا سفر





Malik hanya membolehkan Magrib dan Isya’ saja, sesuai kebiasaan Ahlul Madinah.
Pendapat yang lebih tepat adalah -Allahu a’lam- bolehnya jamak karena hujan baik siang ataupun malam hari, karena:





  • Hadis ibnu Abbas,




عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ قَالَ مَالِك أُرَى ذَلِكَ كَانَ فِي مَطَرٍ





Hadis Ibnu Umar





إن النبي جمع في المدينة بين الظهر والعصر في المطر - رواه عبد الرزاق في المصنف





Qiyas dengan jamak ketika safar yang boleh dikerjakan baik siang ataupun malam.






B. Sakit.





Malik membolehkan jama’ bagi orang sakit karena sakit di-qiyaskan dengan safar karena ‘illahnya sama, yaitu kesulitan. Sedangkan Asy Syafii melarangnya dan tidak menerima qiyas ini sehingga hukumnya tetap sebagaimana tersebut dalam hadis.

Pendapat yang lebih tepat adalah -Allahu a’lam- bolehnya jamak karena sakit, karena:





  • Hadis Ibnu Abbas yang telah lalu,




عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ قَاال أحمد : هذا عندي رخصة للمريض










  • Nabi pernah menyuruh sahlah binti suhail dan hamnah bintu jahsyi untuk jama’ sirr ketika mereka istihadhah, dan istihadhah adalah penyakit.
  • Safar dan sakit ‘illahnya sama yaitu masalah dan kesulitan dan bahkan masalah dan kesulitan dalam sakit sering lebih berat dan tak tertahankan dibandingkan safar.




Sumber:
Kitab Bidayatul Mujtahid karya Imam Ibnu Rusyd Al Qurtubi dengan penjelasan dan tarjih dari guru kami Al Ustaz Anas Burhanuddin, Lc, M.A.

Diterjemahkan dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz