Melangkahi Pundak Orang ketika Shalat Jumat
PERTANYAAN:
Apakah terlarang melangkahi pundak orang yang duduk ketika shalat Jumat?
JAWAB:
كُنْتُ جَالِسًا مَعَ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَجَاءَ رَجُلٌ يَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ
وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ، فَقَالَ: اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ، وَآنَيْتَ
“Aku duduk bersama ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu pada hari Jumat. Lalu datanglah seorang laki-laki yang melangkahi pundak-pundak manusia ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah.” Rasulullah bersabda, “Duduklah, Engkau sudah menyakiti dan juga datang terlambat.” (HR. Ahmad 17697, Abu Dawud 1118, An-Nasa’i no. 1399)
وَمَنْ لَغَا وَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ كَانَتْ لَهُ ظُهْرًا
“Siapa saja yang berbuat sia-sia (yang tidak ada perlunya) dan melangkahi pundak-pundak manusia, maka (salat Jum’at tersebut) menjadi salat dzuhur baginya.” (HR. Abu Dawud no. 347 dan Ibnu Khuzaimah no. 1810)
Menurut Imam Malik dan al-Auza’i, larangan makruh ini berlaku jika khatib sudah naik mimbar. Dalam kitab al-Mudawwanah dinyatakan,
وقال مالك : إنما يكره التخطي إذا خرج الإمام ، وقعد على المنبر
فمن تخطى حينئذ فهو الذي جاء فيه الحديث ، فأما قبل ذلك فلا بأس به إذا كانت بين يديه فُرَجٌ
وليترفق في ذلك
Malik mengatakan, dimakruhkan melangkahi pundak jamaah, hanya ketika imam sudah naik mimbar. Siapa yang melangkahi pundak jamaah setelah imam naik mimbar, maka dia terkena larangan dalam hadis. Sementara orang yang melangkahi pundak sebelum imam naik mimbar, diperbolehkan, jika di depannya ada celah. Dan hendaknya masing-masing saling toleran.
(al-Mudawwanah, 1/159).
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:
إن رأى فرجة لا يصل إليها إلا بالتخطي، ففيه روايتان، إحداهما: له التخطي
قال أحمد: يدخل الرجل ما استطاع، ولا يدع بين يديه موضعا فارغا
فإن جهل فترك بين يديه خاليا، فليتخط الذي يأتي بعده، ويتجاوزه إلى الموضع الخالي
فإنه لا حرمة لمن ترك بين يديه خاليا، وقعد في غيره. وقال الأوزاعي: يتخطاهم إلى السعة
وقال قتادة: يتخطاهم إلى مصلاه. وقال الحسن: تخطوا رقاب الذين يجلسون على أبواب المساجد
فإنه لا حرمة لهم. وعن أحمد رواية أخرى إن كان يتخطى الواحد والاثنين فلا بأس؛ لأنه يسير
فعفي عنه، وإن كثر، كرهناه. وكذلك قال الشافعي؛ إلا أن لا يجد السبيل إلى مصلاه إلا بأن يتخطى
فيسعه التخطي إن شاء الله تعالى.
انتهى
كتاب المغني ٢/١٣٧
"Jika ia melihat celah pada suatu shaf yang tidak bisa dilalui kecuali hanya dengan melangkahi orang, maka terdapat dua riwayat dalam masalah ini. Pertama: Boleh ia melangkahinya, imam Ahmad berkata: Seseorang boleh masuk menuju shaf semampunya, dan tidak boleh ia biarkan shaf didepannya kosong, namun jika ia orang yang jahil dan membiarkan kekosongan shaf di depannya, maka hendaknya orang yang berada dibarisan belakangnya berjalan melangkahinya dan melewatinya menuju shaf yang kosong tersebut, tidak ada kehormatan bagi siapa saja yang membiarkan shaf depannya kosong dan ia boleh duduk ditempat lainya. Al-Auza'i berkata: "Ia boleh melewati menuju shaf yang kosong." Qatadah berkata: "Ia boleh melewati menuju tempat shalatnya (shaf yang kosong).'' Al-Hasan berkata: "Langkahilah mereka yang sering duduk-duduk di pintu masjid, tidak ada kehormatan bagi mereka. Dan terdapat riwayat lain dari imam Ahmad, jika ia melewati dengan melangkahi satu atau dua orang maka tidaklah mengapa, karena mudah dan dimaafkan, namun jika ia melewati banyak orang maka inilah yang kami makruhkan, demikian pula yang dikatakan oleh imam Syafii: "Dimakruhkan kecuali jika ia tidak mendapatkan jalan menuju tempat shalatnya kecuali hanya dengan melangkahi, maka ia ia diberi kelonggaran untuk melangkahinya insyAllah taala.''
Kitab Al-Mughni 2/137
Faidah dari guru kami Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy hafizahullah
Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Komentar
Posting Komentar