ِEmpat Pilar Akhlak Terpuji




Alhamdulillah washalatu wassalaamu 'ala rasulillah, amma ba'du.





Sebuah bangunan harus memiliki pondasi yang di atasnya berdiri sebuah bangunan. Pondasi inilah yang akan menentukan bagus dan kokohnya suatu bangunan. Sebagaimana sebuah pohon memiliki akar yang darinya akan tumbuh batang pohon. Dari akar inilah akan ditentukan sehat dan kokohnya suatu pohon. Ketika kita sudah memiliki akar yang kuat, maka mewujudkan pohon yang kokoh tidak akan sulit. Begitu pula akhlak, akhlak memiliki pondasi yang darinya akan tumbuh dan berkembang akhlak yang lain. Jika pondasi akhlak ini ada dalam diri seseorang maka akhlak terpuji yang lain akan mudah untuk ditumbuhkan. Dan apabila pondasi ini tidak ada, maka akan sulit mewujudkan kesempurnaan akhlak kecuali orang-orang yang Allah beri taufiq.





Abu Ali Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Miskawaih dalam kitab Tahdzibul Akhlak menjelaskan bahwa segala keutamaan akhlak dibangun di atas empat akhlak pokok. Keberanian, kedermawanan, 'iffah (menjaga kesucian diri), dan adil. Dari keempat hal inilah akan tumbuh berbagai akhlak mulia yang lain. Senada dengan perkataan beliau, Syeikhul Islam Ibnu Qayyim Al Jauziyah berpendapat bahwa empat pondasi akhlak mulia adalah kesabaran, 'iffah, keberanian, dan keadilan. Namun, beliau memasukkan kedermawanan, menurut Ibnu Miskawaih, dalam sifat sabar. Karena Hakikat kedermawanan terlahir dari sifat sabar dan berani dalam mengeluarkan dan berpisah dengan harta yang dia cintai.





Syeikhul Islam Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Madarij As Salikin berkata;





وَحُسْنُ الْخُلُقِ يَقُومُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ لَا يُتَصَوَّرُ قِيَامُ سَاقِهِ إِلَّا عَلَيْهَا: الصَّبْرُ، وَالْعِفَّةُ، وَالشَّجَاعَةُ، وَالْعَدْلُ
فَالصَّبْرُ: يَحْمِلُهُ عَلَى الِاحْتِمَالِ وَكَظْمِ الْغَيْظِ، وَكَفِّ الْأَذَى، وَالْحِلْمِ وَالْأَنَاةِ وَالرِّفْقِ، وَعَدَمِ الطَّيْشِ وَالْعَجَلَةِ
وَالْعِفَّةُ: تَحْمِلُهُ عَلَى اجْتِنَابِ الرَّذَائِلِ وَالْقَبَائِحِ مِنَ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ، وَتَحْمِلُهُ عَلَى الْحَيَاءِ
وَهُوَ رَأْسُ كُلِّ خَيْرٍ. وَتَمْنَعُهُ مِنَ الْفَحْشَاءِ، وَالْبُخْلِ وَالْكَذِبِ، وَالْغَيْبَةِ وَالنَّمِيمَةِ
وَالشَّجَاعَةُ: تَحْمِلُهُ عَلَى عِزَّةِ النَّفْسِ، وَإِيثَارِ مَعَالِي الْأَخْلَاقِ وَالشِّيَمِ، وَعَلَى الْبَذْلِ وَالنَّدَى
الَّذِي هُوَ شَجَاعَةُ النَّفْسِ وَقُوَّتُهَا عَلَى إِخْرَاجِ الْمَحْبُوبِ وَمُفَارَقَتِهِ
وَتَحْمِلُهُ عَلَى كَظْمِ الْغَيْظِ وَالْحِلْمِ. فَإِنَّهُ بِقُوَّةِ نَفْسِهِ وَشَجَاعَتِهَا يُمْسِكُ عِنَانَهَا، وَيَكْبَحُهَا بِلِجَامِهَا عَنِ النَّزْغِ وَالْبَطْشِ
كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ: الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
وَهُوَ حَقِيقَةُ الشَّجَاعَةِ، وَهِيَ مَلَكَةٌ يَقْتَدِرُ بِهَا الْعَبْدُ عَلَى قَهْرِ خَصْمِهِ
وَالْعَدْلُ: يَحْمِلُهُ عَلَى اعْتِدَالِ أَخْلَاقِهِ، وَتَوَسُّطِهِ فِيهَا بَيْنَ طَرَفَيِ الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ
فَيَحْمِلُهُ عَلَى خُلُقِ الْجُودِ وَالسَّخَاءِ الَّذِي هُوَ تَوَسُّطٌ بَيْنَ الذُّلِّ وَالْقِحَةِ
وَعَلَى خُلُقِ الشَّجَاعَةِ، الَّذِي هُوَ تَوَسُّطٌ بَيْنَ الْجُبْنِ وَالتَّهَوُّرِ
وَعَلَى خُلُقِ الْحِلْمِ، الَّذِي هُوَ تَوَسُّطٌ بَيْنَ الْغَضَبِ وَالْمَهَانَةِ وَسُقُوطِ النَّفْسِ
وَمَنْشَأُ جَمِيعِ الْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ مِنْ هَذِهِ الْأَرْبَعَةِ





Akhlak mulia berdiri di atas empat pilar utama yang tidak akan bisa berdiri secara kokoh tanpa empat perkara tersebut, yaitu kesabaran, 'iffah (menjaga kesucian diri) keberanian, dan keadilan.





KESABARAN:
Sifat sabar akan membuat seseorang lebih tahan banting, bisa menahan amarah, tidak ingin menyakiti orang lain, bersikap lemah-lembut, santun, tenang, dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu.





'IFFAH:
Menjaga kesucian diri dapat mencegah dari tergelincir dalam keburuka dan kehinaan baik berupa perkataan atapaun perbuatan. 'Iffah juga mendorong untuk malu yang merupakan kunci segala kebaikan. Sifat inilah yang bisa menghindarkan dari perbuatan keji, kikir, dusta, menggunjing, dan mengadu domba.





KEBERANIAN:
Sifat berani menjadikan seseorang berwibawa, kokoh dalam menerapkan norma dan akhlak mulia, serta ringan tangan. Dengan begitu, ia tidak takut untuk mengeluarkan atau berpisah dengan harta yang dicintainya. Sifat ini juga membuat seseorang mampu menahan amarah dan bersikap santun. Dengan kekokohan jiwa dan keberanian, seseorang dapat memegang tali kekang dan mengendalikannya untuk tidak berselisih dan berlaku kasar. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Orang yang kuat itu tidak ditunjukkan dengan pergulatan, melainkan orang yang kuat adalah yang bisa menguasai dirinya ketika marah.” Itulah hakikat keberanian yang merupakan modal bagi seorang hamba untuk mengungguli musuhnya.





ADIL:
Sifat adil mendorong untuk senantiasa meluruskan perangainya, selalu bersifat tengah-tengah antara sikap berlebihan dan sikap menyepelekan. Sifat ini mendorong terus untuk bersikap dermawan dan murah hati; yang merupakan sikap tengah-tengah antara kikir (pelit) dan boros. Sifat ini bertemu dengan sifat berani yang melahirkan sikap tengah-tengah antara pengecut dan nekat. Adil juga dapat melahirkan sifat santun yang merupakan sifat pertengahan dari sifat pemarah dan lembek serta rendah diri.





Allahua’lam. Tulisan ketiga dari faidah tentang Akhlaq Islam dari guru kami Dr. Syafiq Riza Basalamah hafizahullah.
Ditulis dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz