Penyimpangan Dalam Beriman kepada Nama dan Sifat Allah
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam Al Aqidah Al Wasithiyah:
وَمِنَ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ الْإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِتَكْيِيفٍ وَلَا تَمْثِيلٍ، بَلْ يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ فَلَا يَنْفُونَ عَنْهُ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ وَلَا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata , "Merupakan bagian dari beriman kepada Allah adalah beriman dengan sifat-sifat yang dengannya Allah mensifati dirinya sendiri di dalam Al Quran yang mulia dan (beriman) dengan sifat-sifat yang dengannya Rasulullah mensifati Allah tanpa TAHRIF (menyelewengkan maknanya), tanpa TA'THIL (menolak maknanya), tanpa TAKYIF (menjelaskan bagaimana sifatnya), dan tanpa TAMTSIL (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya). Namun hendaknya dia beriman bahwasannya "Tidak ada sesuatupun yang sama seperti Allah dan dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat." Tidak menolak sifat yang telah Allah tetapkan bagi Diri-Nya sendiri dan tidak pula menyelewengkan makna-makna dari maknanya yang benar.
Pertama: Tahrif
Tahrif (التحريف) adalah (إمالة شيء عن وجهه) memalingkan sesuatu dari hakikat aslinya atau mengubah (التغيير). Maksudnya, mengubah sesuatu kepada sesuatu yang lain. Tahrif ada dua macam;
Tahrif Lafzi (Mengubah Lafalnya) yaitu mengubah suatu lafal ke bentuk lafal yang lainnya. Mengubah lafal bisa dilakukan dengan dua cara.
1. Pertama mengubah harakatnya. Misalkan;
وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.”
(An-Nisa`: 164)
Mereka membacanya dengan memberi harakat fathah (manshub) pada kata (اللهَ) dengan tujuan untuk mengubah maknanya, yaitu Nabi Musa yang mengajak Allah berbicara (karena menolak sifat berbicara Allah).
2. Kedua mengubah lafalnya, dengan menambah kata atau huruf, ataupun dengan menguranginya. Misalkan;
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
" Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy."
(Thaha: 5)
Sebagian orang Mengubah lafaz (اسْتَوَى) (bersemayam) dalam firman Allah tersebut dengan (اسْتَوَلى) (menguasai), yaitu dengan menambah satu huruf. Tujuannya untuk menolak sifat Allah sehingga berarti, " Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang menguasai 'Arsy ".
Sebagian yang lain Menambah kalimat dalam firman Allah (وَجَاء رَبُّكَ) yang artinya "Dan datanglah Tuhanmu." menjadi (وَجَاء أمر رَبُّكَ), sehingga artinya "Dan datang perintah Tuhan-mu." Tujuannya adalah untuk menolak bahwasanya Allah datang secara hakiki.
Diriwayatkan bahwa Ahmad bin Abi Du'an pernah berkata kepada raja Ma'mun untuk mengubah lafal (السَّمِيعُ الْبَصِيرُ) menjadi (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) pada firman Allah yang tertulis pada kain penutup Ka'bah;
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat."
(Asy Syura: 11)
Jahm bin Safwan (karena menolak sifat istiwa' Allah) berkata: "Aku berandai-andai seandainya aku bisa menghapus firman Allah
رَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
" Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy."
(Thaha: 5)
Tahrif Maknawi (Mengubah Maknanya), yaitu mengubah atau menggantinya makna asli dengan makna lain tanpa mengubah lafalnya. Seperti perkataan sebagian orang yang mengartikan sifat penyayang Allah (Ar Rahmah) dengan keinginan memberi nikmat, atau mengartikan sifat marah Allah (Al Ghadhab) dengan keinginan untuk memberi hukuman dan adzab. Hal tersebut dimaksudkan untuk menolak sifat rahmah dan sifat ghadhab yang hakiki bagi Allah. Dalam firman-Nya Allah berfirman:
بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ
“Namun kedua tangan-Nya terbentang.” (Al-Ma`idah: 64)
Sebagian orang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tangan-Nya adalah kekuasaan atau nikmat-Nya, atau yang selain itu.
Ahli bid’ah yang melakukan tahrif tidak menamakan perbuatan mereka dengan At-Tahrif (mengubah) karena dalam Al Qur'an tahrif itu berkonotasi negatif dan menjadi ciri khas Ahli Kitab, tetapi mereka menyebutnya sebagai At-Ta`wil (menafsirkan). Namun Ahlussunnah wal Jamaah dari kalangan salaf hingga sekarang ketika berkata takwil maka maksudnya adalah menafsirkan, bukan mengubah sebagaimana keyakinan sebagian kelompok seperti Asy'ariyah, Maturidiyah, dan semisal mereka.
Ta'wil menurut Salafusshalih
Ta'wil berarti Tafsir. Oleh sebab itu Imam Ath Thabari sering berkata dalam kitab tafsir beliau, "Ta'wil firman Allah adalah..." Maksudnya "tafsirnya adalah...".
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
“Tidak ada yang mengetahui ta’wilnya (tafsirnya) kecuali Allah dan orang-orang yang dalam ilmunya“
(Ali ‘Imran:7).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Abbas:
اللهم فقهه في الدين، وعلّمه التأويل
“Ya Allah, pahamkanlah dia ilmu agama dan ajarkanlah dia ta’wil (tafsir)“ .
Ta'wil menurut Ahlussunnah juga memiliki makna lain, yaitu;
Ta'wil berarti kenyataan terjadinya suatu kabar.
هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ ۚ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِن قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَاءَ
"Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali takwilnya (yaitu terlaksananya berita). Pada hari datangnya takwil (kebenaran pemberitaan Al Quran) berkatalah orang-orang yang dahulu melupakan hal itu: "Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa kebenaran, maka adakah bagi kami pemberi syafa'at..."
(Al A'raf: 53)
Ta'wil berarti melaksanakan suatu perintah
عن عائشة رَضِيَ اللَّهُ عَنْها قالت: كان رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يكثر أن يقول في ركوعه وسجوده
سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفر لي - يتأول القرآن
معنى ( يتأول القرآن ) : أي يعمل ما أمر به في القرآن في قوله تعالى
فسبح بحمد ربك واستغفره
Dari 'Aisyah: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperbanyakkan bacaan dalam ruku' dan sujudnya yaitu: Subhanakallahumma rabbana wa bihamdika, Allahummaghfirli. Beliau menta'wil Al Qur'an (mengamalkan perintah dalam Al-Quran.) Makna: Yata'awwalul Quran ialah mengamalkan apa yang diperintahkan pada beliau dalam Al-Quran. Yakni dalam firman Allah Ta'ala:
فسبح بحمد ربك واستغفره
"Maka sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada TuhanMu dan mohonlah pengampunan kepadaNya."
Kedua: Ta’thil
Ta’thil (التعطيل) artinya mengosongkan dan (الإخفاء) meniadakan. Maksudnya adalah mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya, baik mengingkari keseluruhan maupun sebagiannya. Secara istilah ta’thil adalah menolak makna sebenarnya tanpa menggantinya dengan makna lain yang tidak sebenarnya. At-Ta’thil terbagi menjadi dua jenis:
Ta’thil secara menyeluruh, yaitu menolak semua nama dan sifat-sifat Allah. Hal ini dilakukan oleh kelompok Al-Jahmiyyah, Al-Qaramithah, dan yang selain mereka.
Ta’thil secara parsial, yaitu menolak sebagian nama dan sifat-sifat Allah dan menetapkan sebagian yang lainnya. Perbuatan ini dilakukan oleh kelompok Al-Mu’tazilah yang menolak sifat-sifat Allah namun masih menetapkan (mempercayai) nama-nama-Nya. Demikian pula kelompok Al-Asya’irah, Al-Kullabiyyah, dan Al-Maturidiyyah yang menolak sebagian sifat Allah dan menetapkan sebagian yang lainnya.
PERBEDAAN TAHRIF DAN TA'THIL:
Tahrif adalah menolak makna sebenarnya dan menggantinya dengan makna lain yang tidak sebenarnya.
Ta'thil adalah menolak makna sebenarnya dengan tanpa mengganti maknanya.
Ketiga: Takyif
Takyif artinya menjelaskan tentang kaifiyyah (rincian bagaimana sifat Allah). Sehingga takyif merupakan jawaban dari pertanyaan “bagaimana?”. Bertanya bagaimana sifat Allah (bagaimana bentuk tangan Allah, bagaimana cara Allah berada di atas Arsy-Nya) tidak termasuk takyif, meskipun itu adalah berbuatan yang keliru, namun takyif adalah memberi penjelasan. Sebagaimana perkataan Imam Malik ketika ditanya tentang bagaimana istiwa’ Allah, maka beliau menjawab:
َاْلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَمَا أَرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ
“Istiwa’-nya Allah tidak tersembunyi maknanya (jelas maknanya), kaifiyyah (rincian bagaimana Istiwa’-nya) tidak dapat difahami oleh akal, dan beriman kepada hal tersebut wajib, namun bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu (orang yang bertanya) melainkan sedang berada dalam kesesatan.”
Ahlussnunnah wal jama’ah tidak men-takyif sifat Allah, karena firman Allah Ta’ala :
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) berkata tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui“
(Al-A’raf:33)
Keempat: Tamtsil
Tamtsil (التمثيل) secara bahasa maknanya menyerupakan (التشبيه). Adapun maksudnya adalah meyakini bahwa sifat-sifat Allah serupa dengan sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya. Perbuatan tamtsil terlarang dalam memahami nama dan sifat Allah karena banyak dalil yang melarang tamtsil, misalnya firman Allah;
ليسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat."
(Asy Syura: 11)
PERBEDAAN TAKYIF DAN TAMTSIL:
Takyif adalah menjelaskan bagaimana sifat Allah tanpa menyerupakan dengan sesuatu.
Tamtsil adalah menjelaskan bagaimana sifat Allah dengan cara menyerupakan dengan sesuatu.
Allahua’lam. Tulisan ketiga (bagian kedua) dari faidah tentang Tauhid Asma wa Shifat dari guru kami Dr. Abdullah Roy hafizahullah.
Ditulis dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Komentar
Posting Komentar