Akhlak Terpuji dalam Islam

Alhamdulillah washalatu wassalaamu 'ala rasulillah, amma ba'du.




Pengertian Akhlak





Ar Raghib Al Ashfahani berkata:





الخَلق والخُلق في الأصل واحد، لكن خص الخَلق بالهيئات والأشكال والصور المدركة بالبصر
وخص الخُلق بالقوى والسجايا المدركة بالبصيرة





"Al Khalqu (rupa) dan Al Khuluqu (akhlak) berasal dari kata yang sama. Namun Al Khalqu khusus mensifati rupa, bentuk, dan wujud yang dapat diindera oleh mata. Adapun Al Khuluqu khusus mensifati karakter dan perilaku yang hanya diketahui dengan hati."

Imam Ibnu Miskawaih berkata:





وعرفه ابن مسكويه بقوله حال للنفس، داعية لها إلى أفعالها من غير فكر ولا رويَّة
:وهذه الحال تنقسم إلى قسمين
منها ما يكون طبيعيًّا من أصل المزاج، كالإنسان الذي يحركه أدنى شيء نحو غضب
ويهيج من أقل سبب، وكالإنسان الذي يجبن من أيسر شيء، أو كالذي يفزع من أدنى صوت يطرق سمعه
أو يرتاع من خبر يسمعه، وكالذي يضحك ضحكًا مفرطًا من أدنى شيء يعجبه
وكالذي يغتمُّ ويحزن من أيسر شيء يناله. ومنها ما يكون مستفادًا بالعادة والتدرب
وربما كان مبدؤه بالرويَّة والفكر، ثم يستمر أولًا فأولًا، حتى يصير ملكة وخلقًا





"Akhlak adalah kondisi jiwa, yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara spontan tanpa berfikir. Kondisi jiwa ini terbagi menjadi dua, tabiat yang berasal dari karakter bawaan. Misalnya, seseorang yang mudah bereaksi karena hal-hal kecil, seperti amarah yang muncul karena sebab yang sepele. Sebagaimama seseorang yang sangat takut dengan sesuatu yang sepele, atau orang yang sangat takut hanya karena suara kecil yang masuk ke telinganya, atau seseorang yang mudah shock dengan berita yang dia dengar, atau seperti orang yang mudah tertawa terbahak-bahak karena hal kecil yang mencuri perhatiannya, atau seperti orang yang berduka mendalam hanya karena musibah kecil yang dia dapatkan. Semua kondisi kejiwaan ini bisa murupakan pengaruh dari adat lingkungan sekitarnya atau kebiaasaan yang ada dari dalam sendiri. Terkadang pula hal-hal semacam itu bermula diawali dengan berfikir dan pertimbangan, kemudian terus menerus sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi akhlak dan karakternya pribadinya."

Dalam kitab At Tarbiyah Al Akhlaqiyyah Al Islamiyyah disebutkan bahwa;





الأخلاق في نظر الإسلام بأنها عبارة عن مجموعة المبادئ والقواعد المنظمة
للسلوك الإنساني، التي يحددها الوحي، لتنظيم حياة الإنسان، وتحديد علاقته بغيره على نحو يحقق الغاية
من وجوده في هذا العالم على أكمل وجه





Akhlak Islam adalah kumpulan dasar-dasar dan aturan-aturan yang mengatur tingkah laku manusia yang dititahkan oleh (Al Qur'an dan Sunnah) untuk mengatur hidup manusia, dan mengatur interaksinya dengan makhluk lain dengan maksud untuk mencapai tujuan keberadaan mereka di muka Bumi ini secara sempurna."









Dengan definisi di atas akhlak bisa terpuji dan bisa tercela. Akan tetapi, Akhlak yang diajarkan dalam agama Islam hanya Akhlak yang terpuji dan Islam adalah agama yang berupaya menghilangkan keburukan akhlak manusia. Sebagian akhlak manusia ada yang bersifat bawaan yang sudah muncul sejak awal masa tumbuh kembangnya. Dan sebagian akhlak merupakan hasil bentukan lingkungan karena seringnya pengalaman dan tingkah laku yang terus diulang-ulang.





Perbedaan Akhlak Terpuji dalam Islam dan Akhlak Terpuji dalam Masyarakat





Akhlak Islam sumbernya adalah wahyu sehingga mampu berdiri kokoh tanpa perubahan dan bersifat universal, sesuai dan selaras bagi semua manusia tanpa memandang batas masa, tempat, dan rasnya. Adapun nilai-nilai akhlak hasil pengembangan teori manusia atau yang berasal dari adat istiadat manusia maka bersumber dari akal dan kesepakatan sekelompok manusia. Akal manusia terbatas dan kelompok manusia juga sempit. Sehingga akhlak semacam ini berbeda-beda tergantung masyarakat dan tergantung pola pikirnya. Kemudian, sebab dilaksanakannya Akhlak Islam adalah rasa merasa di awasi Allah dan niat untuk mendapat ganjaran di akhirat. Adapun sebab dilaksanakannya akhlak dari adat kebiasaan manusia adalah hanya karena perasaan tidak enak, merasa terikat dengan adat, atau adanya aturan yang memaksa. Akhlak islam bersifat universal, mudah, menghilangkan kesulitan, sesuai fitrah manusia yang masih lurus, dan tidak bertentangan dengan akal sehat.





Standar Akhlak Mulia dalam Islam





Pertama, akhlak Islam standarnya adalah wahyu.





Sebagaimana tersebut sebelumnya, akhlak Islam sumbernya adalah wahyu sehingga tidak membutuhkan perubahan dan bersifat universal bagi semua kalangan dan semua zaman. Wahyu terdiri dari Al Qur'an dan Sunnah. Di dalam Al Qur'an terdapat banyak sekali pelajaran adab dan akhlak. Hadis-hadis Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bertebaran di dalamnya nilai-nilai moral yang luhur. Sebagian kecil kalam wahyu tersebut terangkum dalam artikel Kenapa Kita Harus Berakhlak Mulia?

Kedua, akhlak Islam standarnya adalah adat istiadat.





Islam bukanlah agama yang menghapuskan semua adat kebiasaan masyarakat. Namun Islam hanya menghapus adat yang bertentangan dengan syariat Islam, memperbaiki adat baik yang kurang sempurna, dan melanggengkan adat dan kebiasaan yang baik (menurut kaca mata syariat) di masyarakat. Akan tetapi, sebuah adat, kebiasaan, budaya, kearifan lokal dan lain sejenisnya akan di anggap terpuji apabila tidak bertentangan dengan;





  • Perkara Ushul atau Pokok dalam Islam. Misalkan Tauhid, Iman, batasan halal-haram, dan lain sebagainya.
  • Ayat Al Qur'an dan hadis-hadis yang shahih.
  • Kaidah-kaidah syar'i yang telah disepakati umat Islam.
  • Kesepakatan para ulama.




Dalil berlakunya 'urf atau adat dan kebiasaan manusia dalam Islam adalah firman Allah ta'ala Surat An-Nisa Ayat 19





وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
"Dan pergaulilah mereka (istri-istri) secara ma'ruf..."





Syeikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi ketika menafsirkan potongan ayat ini beliau berkata, "Yakni dengan berlaku baik dalam berkata-kata dan berakhlak dengan istri. Oleh karena itu, suami wajib bergaul dengan istri secara ma'ruf, menghindarkan bahaya, memberikan ihsan, bermuamalah secara baik, termasuk di dalamnya memberi nafkah, pakaian dsb. tentunya hal ini disesuaikan dengan waktu dan tempat (daerah) atau 'urf."









Ketiga, akhlak Islam standarnya adalah hati nurani.





Nurani (الضمير الأخلاقي) adalah sesuatu yang Allah letakkan dalam jiwa seseorang yang dengannya seseorang mampu mengenali dan membedakan suatu kebaikan atau keburukan. Seseorang yang fitrahnya masih lurus, akalnya masih sehat, dan hatinya yang masih selamat akan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Hal ini diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya:





فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا





"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) keburukan dan kebaikan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."
(Asy-Syams 91:8-10)





Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,





عن وابصة بن معبد رضي الله عنه قال : أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم
فقال: جئت تسأل عن البر؟ قلت: نعم. قال: استفت قلبك. البر مااطمأن إليه النفس واطمأن إليه القلب
والإثم ماحاك في النفس و تردد في الصدر وإن أفتاك الناس وأفتوك





Dari Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: Benar. Kemudian beliau bersabda: “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.”
(HR. Ahmad)





وَعَنِ النَّوَّاسِ ابْنِ سَمْعَانَ رضي اللّه عنه قَالَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم عَنِ الْبِرِّ وَ اْلأِثْمِ
فَقَالَ اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَ اْلأِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاس





Dari sahabat Nawwas bin Sam’an beliau berkata, Aku bertanya kepada Rasūlullāh tentang makna kebajikan dan dosa, "Apa itu kebajikan? Dan apa itu dosa?" Maka Rasūlullāh berkata, “Al-birr (kebajikan) adalah akhlak yang mulia. Adapun dosa adalah apa yang engkau gelisahkan di hatimu dan engkau tidak suka kalau ada orang yang mengetahuinya.”
(HR. Muslim)





Penjelasan tentang nurani sebagai standar ketiga dalam akhlak Islam dibahas lebih lanjut dalam artikel dalam bahasa Arab;





الحس الأخلاقي أو الضمير الأخلاقي





Allahua’lam. Tulisan pertama dari faidah tentang Akhlaq Islam dari guru kami Dr. Syafiq Riza Basalamah hafizahullah.
Ditulis dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz