Sumber dalam Memahami Nama dan Sifat Allah
Setelah kita memahami pentingnya mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah dalam pembahasan Pentingnya Mempelajari Ilmu tentang Allah. Bahwasanya ilmu ini adalah ilmu menuju kesempurnaan iman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan ilmu inilah yang akan mewariskan rasa takut, tawakal, bergantung pada Allah, dan amalan-amalan hati yang lain dalam jiwa seorang hamba. Ilmu ini akan mengantarkan seseorang pada tujuannya, yaitu ma'rifatullah, bila ilmu ini difahami secara benar.
Benar dan tidaknya pemahaman tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah akan bergantung pada dari mana sumber pemahaman ini diambil. Kesalahan mengambil sumber ilmu, akan berakibat pada kesalahan dalam memahami nama-nama Allah yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung. Pembahasan ini merupakan penjelasan bahwa sumber keyakinan (Aqidah) seorang muslim haruslah diambil dari Al Qur'an dan As Sunnah. Dan pada akhir pembahasan akan dipaparkan dalil yang menunjukkan bahwa Al Qur'an dan As Sunnah haruslah difahami dengan pemahaman ulama salaf (para sahabat Nabi dan murid-murid mereka). Berikut dipaparkan dalil-dalilnya.
Dalil dari Al Qur'an
Berikut adalah beberapa dalil yang menunjukkan bahwa semua urusan agama Islam harus diambil dari Al Qur'an dan As Sunnah. Baik dalam masalah Ushul (pokok agama) dan juga Furu' (permasalah cabang), dan juga termasuk dalam memahami Nama dan Sifat Allah.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian diin kalian, dan telah Aku sempurnakan atas kalian nikmatku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.”
Surat Al-Maidah Ayat 3
Sisi pendalilannya adalah bahwasanya Allah telah mengabarkan bahwa agama Islam telah sempurna sehingga sudah dijelaskan semua permasalah agama ini. Sehingga semua masalah Ushul (pokok agama) dan juga Furu' (permasalah cabang), dan juga termasuk dalam memahami Nama dan Sifat Allah sudah dijelaskan secara sempurna oleh Islam. Dan penjelasan yang sempurna dalam Islam terdapat pada dari Al Qur'an dan Sunnah.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya."
Surat An-Nisa Ayat 65
Sisi pendalilannya adalah bahwasanya Allah meniadakan keimanan seseorang yang tidak menjadikan Nabi Muhammad sebagai hakim/ penentu yang memutuskan segala urusan dan masalah mereka. Sehingga wajib untuk mengembalikan semua permasalahan agama kepada sabda-sabda beliau.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."
Surat At-Taubah Ayat 128
Sisi pendalilannya adalah bahwasanya Allah mensifati Nabi-Nya bahwa dia adalah orang yang "sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu" sehingga tidak mungkin Rasulullah belum menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang menjadi sebab kebahagiaan dan selamatan bagi umatnya di dunia dan di akhirat. Sehingga wajib mengikuti apa yang dikatakan oleh Rasulullah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
Surat An-Nisa Ayat 59
Sisi pendalilannya adalah bahwasanya Allah memerintahkan umat Islam untuk mengembalikan perselisihan mereka kepada Allah (Al Quran) dan Rasulullah (As Sunnah). Dan tidaklah diperintahkan demikian kecuali memang karena keduanya adalah sumber dalam memahami masalah Ushul (pokok agama) dan juga Furu' (permasalah cabang), dan juga termasuk dalam memahami Nama dan Sifat Allah.
Dalil dari Hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَايْمُ اللَّهِ لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَنَهَارُهَا سَوَاءٌ
Dari Abu Darda' dia berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Demi Allah, sungguh aku telah meninggalkanmu dalam keadaan jelas, malam harinya sama dengan siang harinya."
Silsilah Al Ahadits Ash-Shahihah (688)
Maksudnya adalah bahwasanya semua masalah telah dijelaskan secara jelas dan gamblang sehingga seperti sesuatu yang nampak jelas di siang hari. Dan karena sangat jelas perkara itu juga masih nampak jelas di malam harinya. Oleh sebab itulah Nabi mengumpamakan kejelasan ini dengan "malam harinya sama (jelasnya) dengan siang harinya".
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَمْ يَكُنْ نَبيٌّ قَبْلي إلاَّ كَانَ حَقا علَيْهِ أنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَـى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjuki umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui, dan memberikan peringatan kepada mereka dari kejelekan yang ia ketahui. ...”
HR. Muslim
Semua Nabi dan Rasul telah menjelaskan kepada umatnya semua kebaikan dan keburukan, termasuk dalam urusan Aqidah, termasuk dalam memahami ayat-ayat dan hadis-hadis yang mengandung nama-nama dan sifat-sifat Allah.
عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: تَرَكَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلاَّ وَهُوَ يَذْكُرُنَا مِنْهُ عِلْمًا
قَالَ: فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami (wafat), dan tidaklah seekor burung yang terbang membalik-balikkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan ilmunya kepada kami.” Berkata Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian.’”
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قِيلَ لَهُ قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ
قَالَ فَقَالَ أَجَلْ لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ
أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ
Dari Abdurrahman bin Yazid dari Salman dia berkata, "Ditanyakan kepadanya, 'Apakah Nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu hingga masalah buang hajat?' Abdurrahman berkata, "Salman menjawab, 'Ya. Sungguh dia telah melarang kami untuk menghadap kiblat saat buang air besar, buang air kecil, beristinja' dengan tangan kanan, beristinja' dengan batu kurang dari tiga buah, atau beristinja' dengan kotoran hewan atau tulang'."
HR. Muslim
Apabila dalam urusan yang sepele saja, misalkan masalah beristinja' (bersuci setelah buang hajat) dengan tangan kanan, beristinja' dengan batu kurang dari tiga buah, dan lain sebagainya telah dijelaskan, apakah mungkin Rasulullah belum menjelaskan masalah bagaimana memahami dan mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah?
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya."
(HR. Malik, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm.)
Terkait dengan dalil-dalil di atas Ibnu Taimiyah berkata;
فمن المحال في العقل والدين أن يكون السراج المنير الذي أخرج الله به الناس
.من الظلمات إلى النور وأنزل معه الكتاب بالحق ليحكم بين الناس فيما اختلفوا فيه
وأمر الناس أن يردوا ما تنازعوا فيه من أمر دينهم إلى ما بعث به من الكتاب والحكمة
وهو يدعو إلى الله وإلى سبيله بإذنه على بصيرة وقد أخبر الله بأنه أكمل له ولأمته دينهم وأتم عليهم نعمته
محال مع هذا وغيره : أن يكون قد ترك باب الإيمان بالله والعلم به ملتبسا مشتبها
ولم يميز بين ما يجب لله من الأسماء الحسنى والصفات العليا وما يجوز عليه وما يمتنع عليه
"Maka tidaklah mungkin baik secara akal ataupun secara agama apabila Rasulullah yang diibaratkan sebagai lentera yang terang yang dengannya Allah keluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya, yang bersamanya Allah turunkan Al Qur'an dengan sebenar-benarnya agar beliau menghukumi semua perselisihan yang dihadapi manusia, yang Allah perintahkan seluruh perselisihan manusia dalam masalah agama dikembalikan kepada Nabi yang telah diutus dengan Al Kitab dan Al-Hikmah. Dan beliaulah orang yang mengajak manusia kepada Allah, kepada jalan-Nya dengan izin-Nya dengan bashirah (ilmu). Dan Allah telah mengabarkan bahwa Dia telah menyempurnakan agama-Nya untuknya dan untuk umatnya dan Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya. Maka karena semua hal, mustahil apabila Nabi meninggalkan celah pada masalah keimanan pada Allah berupa perkara yang simpang siur dan tidak jelas dan tidak menjelaskan secara rinci tentang kewajiban beriman terhadap nama-nama Allah yang mulia dan sifat-Nya yang tinggi termasuk apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang.

Al Qur'an dan Sunnah Harus Difahami dengan Pemahaman Salafus Shalih
Setelah kita memahami bahwa masalah-masalah agama Islam dibangun di atas Al Qur'an dan Hadis, maka perlu di tegaskan kembali bahwa mengembalikan urusan agama kepada Al Qur'an dan Hadis dan berpegang teguh kepadanya tidak semata-mata hanya berpegang pada arti dari lafal-lafal pada Al Qur'an dan As Sunnah saja atau memaknai keduanya dengan sekehendak akal manusia. Karena faktanya, banyaknya kaum muslimin sekarang yang terkotak-kotak dalam kelompok-kelompok Islam, semua mengklaim bahwa memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As- Sunnah. Padahal sebenarnya mereka mengikuti pemikiran para pemimpin kelompok mereka. Sehingga hasilnya adalah jalan yang bebeda-beda. Maka Al-Qur’an dan As- Sunnah haruslah difahami makna-maknanya yang benar sebagaimana dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan sebaik-baik pengetahuan dan sebenar-benar pemahaman terhadap Al Qur'an dan As Sunnah itu terdapat dalam diri-diri ulama salaf, yaitu para shahabat Nabi (murid-murid Nabi). Karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu (al-Qur’an) dan menyaksikan langsung praktek Rasulullah yang mulia shalallahu ‘alaihi wasallam yang dengannya mereka memahami penafsiran wahyu dengan tepat. Setelah para sahabat, ada ulama salaf dari kalangan Tabi'in (murid-murid shahabat Nabi) yang ber-talaqqi (belajar langsung kepada para sahabat Nabi), dan Tabi' At Tabi'in (murid-murid para Tabi'in) yang ber-talaqqi langsung kepada Tabi'in. Dan mereka inilah tiga generasi terbaik dalam sejarah umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana tersebut dalam hadis.
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Maka semua pemahaman terhadap Al Qur'an dan As Sunnah harus dikembalikan kepada pemahaman mereka. Dalil dari pernyataan bahwa Al Qur'an dan As Sunnah harus dikembalikan kepada pemahaman para salaf di atas terdapat dalam Al Qur'an, As Sunnah, dan perkataan shahabat Nabi. Di antaranya adalah sebagai berikut.
Dalil dari Al Qur'an
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar."
Surat At-Taubah Ayat 100
Dalam ayat ini Allah telah memuji para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik bahwasanya Allah ridha kepada mereka dan merekapun juga ridha kepada Allah. Dan tidaklah disebut mengikuti dengan baik kecuali mereka telah mengikuti secara totalitas baik dalam masalah pokok ataupun cabang, yang besar ataupun kecil, yang zahir ataupun batin.
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar."
Surat Al-Fath Ayat 29
Ayat ini secara tegas menyebutkan pujian Allah kepada "orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad)" yaitu para sahabat dalam hal kebaikan sifat batin mereka, kebaikan amalan zahir mereka, lurusnya niat mereka, dan kebagusan agama mereka sehingga mereka wajib diikuti.
Dalil dari Hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: "Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” secara tegas menyebutkan pujian Rasulullah kepada "Tiga Generas Emas" umat Islam yang juga mengisyaratkan kepada umatnya untuk mengikuti mereka dalam hal cara beragama.
Dalil dari Perkataan Ulama Salaf
Sseorang sahabat Nabi, Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata:
مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتِنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ، فَإِنَّ الْحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ
أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانُوْا أَفْضَلَ هَذِهِ الأُمَّةِ، وَأَبَرَّهَا قُلُوْباً
وَأَعْمَقَهَا عِلْماً، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ، وَإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ
وَاتَّبِعُوْهُمْ فِيْ آثَارِهِمْ، وَتَمَسَّكْوْا بِمَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ أَخْلَاقِهِمْ وَدِيْنِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ
“Siapa saja yang mencari teladan, maka teladanilah orang yang telah wafat. Karena sesungguhnya orang yang masih hidup tidak dijamin terpelihara dari fitnah. Itulah mereka para Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam. Karena merekalah orang yang paling baik hatinya di antara umat ini, paling mendalam ilmu agamanya, umat yang paling sedikit berlebihan-lebihan (dalam beragama). Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jejak mereka dan berpegang teguhlah pada akhlak serta agama mereka semampu kalian, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus.”
(Sittu Durar Min Ushuli Ahlil Atsar)
Sebagai penutup, tulisan kita renungi perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah;
وأما أهل الحديث والسنة والجماعة فقد اختصو باتباعهم الكتاب والسنة الثابتة عن نبيهم
صلى الله عليه وسلم - في الأصول والفروع ، وما كان عليه أصحاب رسول الله
صلى الله عليه وسلم - بخلاف الخوارج والمعتزلة والروافض ومن وافقهم في بعض أقوالهم
فإنهم لا يتبعون الأحاديث التي رواها الثقات عن النبي - صلى الله عليه وسلم
التي يعلم أهل الحديث صحتها
"Adapun Ahli Hadis, Ahlissunnah wal Jamaah, memiliki ciri khas berupa hanya mengikuti Al Qur'an, As Sunnah yang shahih dari Nabi mereka, sesuai dengan apa yang difahami oleh pada sahabat Rasulullah, baik dalam masalah pokok ataupun masalah cabang."
Allahua’lam. Tulisan kedua dari faidah tentang Tauhid Asma wa Shifat dari guru kami Dr. Abdullah Roy hafizahullah.
Ditulis dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Komentar
Posting Komentar