Empat Induk Akhlak Tercela


Berlindung dari Akhlak Tercela





Nabi sebagai manusia yang paling luhur perilakunya, paling agung budinya, dan paling mulia tingkah lakunya, dihormati sahabatnya, dan disegani musuh-musuhnya, masih saja memohon kepada Allah agar dihindarkan dari akhlak yang buruk. Dari Ziyad bin ‘Ilaqoh dari pamannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca do’a,





اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ





Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kemungkaran dalam akhlaq, amal, dan hawa nafsu.” (HR. Tirmidzi)





اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْهَرَمِ، وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ





Dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, pikun, bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan fitnah hidup dan mati.” (HR. Muslim)





Sehingga selayaknya kita berlindung dari keburukan akhlak dari dalam diri kita dan juga berlindung dari keburukan akhlak orang lain. Dalam sebuah hadis diriwayatkan sebuah doa sebagai berikut;





اللَّهُمَّ إنِّي أّعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ المَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَليَّ رَبّاً، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابَاً، وَمِنْ خَلِيْلٍ مَاكِرٍ عَيْنُهُ تَرَانِي، وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي؛ إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا





Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jahat; dari pasangan yang menjadikanku cepat tua (beruban) sebelum waktunya; dari anak yang menjadi tuan bagiku; dari harta yang menjadi siksa bagiku; dan dari kawan dekat yang berbuat buruk kepadaku, (yaitu) yang matanya terus mengawasi aku dan hatinya terus mengintaiku, namun kalau melihat kebaikanku, ia sembunyikan dan kalau melihat kejelekanku, ia sebarkan.” (HR. Thabrani. Hadis ini hanya maqthu’, perkataan tabi’in dan tidak marfu’ sampai Nabi)





Empat Induk Segala Akhlak Buruk





Dalam kitab Madarij As Salikin, Syeikhul Islam Ibnu Qayyim Al Jauziyah menyatakan bahwa akhlak tercela juga berdiri di atas empat pilar, yaitu bodoh, zalim, mendahulukan hawa nafsu, dan mudah marah.





وَمَنْشَأُ جَمِيعِ الْأَخْلَاقِ السَّافِلَةِ، وَبِنَاؤُهَا عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ: الْجَهْلُ. وَالظُّلْمُ. وَالشَّهْوَةُ. وَالْغَضَبُ
فَالْجَهْلُ: يُرِيهِ الْحَسَنَ فِي صُورَةِ الْقَبِيحِ، وَالْقَبِيحَ فِي صُورَةِ الْحَسَنِ. وَالْكَمَالَ نَقْصًا وَالنَّقْصَ كَمَالًا
وَالظُّلْمُ: يَحْمِلُهُ عَلَى وَضْعِ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ. فَيَغْضَبُ فِي مَوْضِعِ الرِّضَا. وَيَرْضَى فِي مَوْضِعِ الْغَضَبِ
وَيَجْهَلُ فِي مَوْضِعِ الْأَنَاةِ. وَيَبْخَلُ فِي مَوْضِعِ الْبَذْلِ. وَيَبْذُلُ فِي مَوْضِعِ الْبُخْلِ. وَيُحْجِمُ فِي مَوْضِعِ الْإِقْدَامِ. وَيُقْدِمُ فِي مَوْضِعِ الْإِحْجَامِ. وَيَلِينُ فِي مَوْضِعِ الشِّدَّةِ. وَيَشْتَدُّ فِي مَوْضِعِ اللِّينِ. وَيَتَوَاضَعُ فِي مَوْضِعِ الْعِزَّةِ.
وَيَتَكَبَّرُ فِي مَوْضِعِ التَّوَاضُعِ
وَالشَّهْوَةُ: تَحْمِلُهُ عَلَى الْحِرْصِ وَالشُّحِّ وَالْبُخْلِ، وَعَدَمِ الْعِفَّةِ وَالنَّهْمَةِ وَالْجَشَعِ، وَالذُّلِّ وَالدَّنَاءَاتِ كُلِّهَا
وَالْغَضَبُ: يَحْمِلُهُ عَلَى الْكِبْرِ وَالْحِقْدِ وَالْحَسَدِ، وَالْعُدْوَانِ وَالسَّفَهِ
وَيَتَرَكَّبُ مِنْ بَيْنِ كُلِّ خُلُقَيْنِ مِنْ هَذِهِ الْأَخْلَاقِ: أَخْلَاقٌ مَذْمُومَةٌ





KEBODOHAN:
Kebodohan membuat seseorang melihat kebaikan nampak buruk, keburukan terlihat baik, cela dan kekurangan terlihat sempurna, kesempurnaan akan dipandang buruk dan tercela.





ZALIM:
Sifat zalim mendorong untuk meletakkan sesuatu tidak pada tempat semestinya. Marah ketika seharusnya bersikap rela, justru santai ketika harusnya dia marah. Bersikap bodoh dan sembrono ketika dituntut untuk hati-hati. Bersikap kikir ketika keadaan menuntut untuk berkorban. Menghamburkan harta ketika dituntut hemat. Maju ketika harus mundur dan justru kedepan ketika selayaknya mundur. Lembut ketika keadaan menuntutnya berlaku keras dan bersikap keras ketika keadaan menuntut kelembutan. Rendah hati ketika seharusnya menunjukkan kewibawaannya dan justru sombong ketika seharusnya ia rendah hati.

MENGIKUTI HAWA NAFSU:
Hawa nafsu mendorong orang untuk bersemangat dalam ketamakan dan kekikiran, tidak menjaga kesucian diri, tidak dapat mengendalikan nafsu dan keserakahan, dan membawa pada kehinaan dan segala macam keburukan.





MARAH:
Sifat pemarah dapat mendorong seseorang bersikap arogan, menumbuhkan sifat iri dan dengki, mudah tersulut perpecahan dan tindakan tanpa perhitungan.





Keempat sifat ini melahirkan akhlak yang tidak terpuji. Sumber keempat sifat ini adalah sikap berlebihan atau sikap bermudah-mudahan atau menyepelekan.







Allahua’lam. Tulisan keempat dari faidah tentang Akhlaq Islam dari guru kami Dr. Syafiq Riza Basalamah hafizahullah.
Ditulis dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.




Komentar

  1. Izin menyalin seluruh isi dalam wordpress ini untuk saya Copi di FB saya dan saya print boleh akhy?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz