Benarkah bahwa Tidurnya Orang yang Puasa adalah Ibadah?
PERTANYAAN:
Benarkah tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah?
JAWAB:
Hadisnya tidak shahih, simak penjelasan berikut;
عن عبد الله بن أبي أوفى رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال
نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف
رواه البيهقي في شعب الإيمان 3/1437 والديلمي 4/ 248
وضَعَّف إسناده البيهقي ، فقال : معروف بن حسان أحد رجال الإسناد ضعيف
وسليمان بن عمرو النخعي أضعف منه
وسليمان بن عمرو النخعي هذا قال عنه أحمد: كان يضع الحديث
وقال البخاري: متروك، رماه قتيبة وإسحاق بالكذب
وقال الذهبي: كذاب
الميزان 3/305
وأما معروف بن حسان فقد قال عنه ابن عدي: منكر الحديث
الميزان 6/ 467
والحديث ضعفه البيهقي، والعراقي والمناوي فيض القدير 6/378
وقال الألباني: ضعيف السلسلة الضعيفة 10/ 230
Dari Abdullah bin Aufa radhiyAllahu'anhu, bahwasanya Nabi shAllahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya mustajab, dan amalnya dilipatgandakan.'' diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman (3/1437), dan Ad-Dailami (4/248).
Al-Baihaqi melemahkan sanadnya, ia berkata: "Ma'ruf bin Hassan (salah seorang perawi dalam sanad): Dhaif/ lemah dan Sulaiman Bin Amr An-Nakha'i lebih lemah darinya.'' Dan tentang Sulaiman Bin Amr An-Nakha'i ini, Imam Ahmad berkata tentangnya: "Ia seorang pemalsu hadist'' Imam Al Bukhari berkata: "Matruk (ditinggalkan riwayatnya), Qutaibah dan Ishaq menuduhnya sebagai seorang pendusta'' Ad-Dzahabi berkata: "Pendusta." Mizanul I'tidal (3/305).
Adapun Ma'ruf bin Hassan, Ibnu Adi berkata tentangnya: "Munkarul hadist.'' Mizanul I'tidal (6/467).
Hadist tersebut di lemahkan oleh Al-Baihaqi, Al-'Iraqi dan Al-Munawi dalam Faidhul Qodir (6/378).
Syaikh Al-Albani berkata: "Dhaif/ lemah." dalam Silsilah Ad-Dhaifah 10/230.
Syeikh Shaleh Al Fauzan pernah ditanya: "Disana ada orang yang melarang banyak tidur saat Ramadhan, dan ia berkata: 'Sesungguhnya wajib atas setiap muslim untuk senantiasa beramal dan tetap terjaga, dan tidak selayaknya untuk memperbanyak tidur.' Bagaimakah menurut pendapat Anda, wahai Fadhilatus syaikh?''
السؤال
هناك من ينهى عن كثرة النوم في رمضان، ويقول
إن على المسلم أن يكون في عمل ويقظة ولا ينبغي له كثرة النوم، ما رأي فضيلتكم؟
الجواب
نعم ينهى عن الإكثار من النوم في هذا الشهر أعني النوم في النهار، لأنه يكسل عن الطاعة
وربما يفوت صلاة الجماعة أو يسبب إخراج الصلاة عن وقتها، والمطلوب من المسلم النشاط في الطاعة
ويكون النوم بالليل، ولا سيما من أوله لينشط في النهار على أداء العلم والمشاركة في الطاعات
المنتقى من فتاوى الشيخ صالح الفوزان رقم الفتوى 7191
Beliau menjawab:
Betul, dilarang untuk banyak tidur saat bulan ini yakni tidur pada siang hari di bulan ramadhan, karena dapat membuat malas dari mengerjakan ketaatan, dan terkadang dapat membuatnya tertinggal dari mengerjakan shalat berjamaah atau dapat menyebabkannya mengerjakan shalat di luar waktunya, maka seorang muslim dituntut untuk senantiasa semangat dalam mengerjakan ketaatan, hendaknya ia tidur di waktu malam, terlebih tidur di awal malamnya, agar tetap menjaga semangat di siang hari untuk menunaikan ilmu serta ikut serta dalam mengerjakan ketaatan.''
Al-Muntaqo Min Fatawa Syaikh Sholih Fauzan fatwa nomor 7191
Faidah dari guru kami Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy hafizahullah
Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Komentar
Posting Komentar