Bolehkah Suami Memandikan Jenazah Istrinya?

PERTANYAAN:
Bolehkah Seorang Suami Memandikan Jenazah sang Istri?  


JAWAB:
Silakan disimak hadis berikut,




  





  عن عائشة رضي الله عنها قالت
رَجَعَ إلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ جِنَازَةٍ بِالْبَقِيعِ
وَأَنَا أَجِدُ صُدَاعًا فِي رَأْسِي وَأَقُولُ : وَارَأْسَاهُ , فَقَالَ : بَلْ أَنَا وَارَأْسَاهُ
مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ وَكَفَّنْتُكِ
ثُمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ وَدَفَنْتُكِ
رواه أحمد (25380) ، وابن ماجة (1456)، وصححه الشيخ الألباني في صحيح ابن ماجة 1/247





  وعن أسماء بنت عميس رضي الله عنها
أَنَّ فَاطِمَةَ رضي الله عنها أَوْصَتْ أَنْ يُغَسِّلَهَا عَلِيٌّ رضي الله عنه





رواه الشافعي (1/312) ، والدار قطني (2/79) ، والبيهقي (3/396) وحسن إسناده الشوكاني في نيل الأوطار 4/35





    قال الشوكاني رحمه الله





 في قوله عليه الصلاة والسلام
فغسلتك - فيه دليل على أن المرأة يغسلها زوجها إذا ماتت
انتهى





نيل الأوطار 4/35





   قال الإمام النووي رحمه الله





وأما غسله زوجته فجائز عندنا , وعند جمهور العلماء
حكاه ابن المنذر عن علقمة وجابر بن زيد وعبد الرحمن بن الأسود
ومالك والأوزاعي وأحمد وإسحاق ، وهو مذهب عطاء وداود وابن المنذر
وقال أبو حنيفة والثوري : ليس له غسلها ، وهو رواية عن الأوزاعي واحتج لهم
بأن الزوجية زالت فأشبه المطلقة البائن
انتهى





مجموع شرح المهذب 5/122





 Dari Aisyah radhiyAllahuanha, ia berkata: "Rasulullah shAllahu alaihi wa sallam pernah kembali dari mengantarkan jenazah di Baqi' dan pada saat itu aku mendapati sakit di kepalaku (pusing), aku berkata: "Aduh kepalaku!'' Nabi menjawab: "Aku juga, kepalaku sakit,  tapi tidak jadi masalah bagimu, karena jika engkau meninggal sebelum aku maka akulah yang akan memandikanmu, mengkafani jenazahmu, lalu aku menyalati dan menguburkan jenazahmu.''
Diriwayatkan oleh Ahmad 25380, Ibnu Majah 1456, dan disahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah 1/247.

Dari Asma Binti Umais radhiyAllahuanha: "Bahwasanya Fatimah radhiyAllahuanha pernah mewasiatkan kepada Ali radhiyAllahuanhu untuk memandikan jenazahnya."
Diriwayatkan oleh As-Syafii 1/312, Daruqutni 2/79, Al-Baihaqi 3/396, dan dihasankan sanadnya oleh As-Syaukani dalam Nailul Author 4/35.

As-Syaukani rahimahullah berkata: "Dalam sabda Nabi shallAllahu alaihi wa sallam (Akulah yang akan memandikan jenazahmu), maka  ini menjadi dalil kebolehan seorang suami memandikan jenazah istrinya jika ia meninggal dunia."
Selesai - Nailul Author 4/35 

Imam An- Nawawi rahimahullah berkata : "Adapun seorang suami yang memandikan jenazah istrinya maka hal ini diperbolehkan menurut madzhab kami dan juga jumhur ulama, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Mundzir dari 'Alqomah bin Zaid, Abdurrahman Bin Aswad dan Malik, Al-Auza'i, Ahmad dan Ishaq dan ini juga pendapat madzhab 'Atho, Daud, dan Ibnu Munzdir. Adapun Abu Hanifah dan Ats-Tsauri berkata: "Tidak boleh bagi suami memandikan jenazah istrinya.'' Dan inilah riwayat dari Al-Auza'i, mereka beralasan bahwa hubungan suami-istri menjadi terputus/ hilang karena sebab kematian, hal ini serupa dengan Talak Ba'in."

Selesai - Majmu Syarh Muhaddzab 5/122 









Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.





Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz