Masbuq ketika Shalat Jumat



PERTANYAAN:
Jika tertinggal satu rakaat shalat jumat, bagaimana melengkapi rakaat berikutnya? Menambah satu rakaat lagi atau menambah tiga rakaat menjadi shalat dzuhur?

JAWAB:
Kaidah dalam masalah ini, dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin sebagai berikut:





قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله
إذا جاء الإنسان والإمام في التشهد في صلاة الجمعة
فقد فاتته الجمعة فيدخل مع الإمام ويصلي ظهراً أربعاً
لأن الجمعة قد فاتته لقول النبي صلى الله عليه وسلم
من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة
فإن مفهومه أن من أدرك أقل من ذلك لم يكن مدركاً للصلاة





وقد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال
من أدرك ركعة من الجمعة فقد أدرك
أي: فقد أدرك صلاة الجمعة إذا أتى بالركعة الثانية





مجموع فتاوى و رسائل الشيخ محمد صالح العثيمين م ١٦ باب صلاة الجمعة





Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:
"Jika seseorang datang ke masjid dan mendapati imam sedang tasyahhud shalat jumat, maka berarti ia telah tertinggal shalat Jum'at, maka ia masuk mengikuti imam dan melanjutkan dengan mengerjakan shalat dzuhur empat rakaat, karena shalat Jum'at telah tertinggal, berdasarkan sabda Nabi shallAllahu alaihi wa sallam: "Barangsiapa yang mendapati rakaat, maka berarti ia telah mendapatkan shalat." Maka dipahami dari hadist ini bahwa, barangsiapa yang mendapati kurang dari satu rakaat, maka ia tidaklah termasuk orang yang mendapati shalat." Dan telah diriwayatkan dari Nabi shAllahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barangsiapa yang mendapati satu rakaat shalat Jum'at, maka ia telah mendapatkannya, yakni ia telah mendapatkan shalat jumat, yakni apabila ia sempat mendapati rakaat yang kedua."





Majmu Fatwa wa Rasail syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin jilid 16 - Bab Shalat Jum'at





Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.

Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz