Tafsir Surat Maryam Ayat 71-72
SETIAP KITA PASTI AKAN MENDATANGI NERAKA
Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman;
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا
Arab-Latin:
wa im mingkum illā wāriduhā, kāna 'alā rabbika ḥatmam maqḍiyyā
ṡumma nunajjillażīnattaqaw wa nażaruẓ-ẓālimīna fīhā jiṡiyyā
Arti:
"Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan akan mendatangi neraka itu. Yang demikian itu di sisi Rabb kalian adalah kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." " (QS. Maryam: 71 - 72)
KEADAAN PARA SALAF KETIKA MENDENGAR AYAT INI
Abdullah bin Rawahah, salah seorang sahabat Nabi yang senior, terkenal dengan keberanian dan kehebatannya di medan Jihad. Beliau syahid sebagai panglima perang pada perang Mu'tah. Suatu malam, beliau sedang sakit dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan isterinya. Maka dia tiba-tiba menangis, dan ikut menangis pula isterinya. Lalu Abdullah bin Rawahah berkata: "Saya menangis teringat firman Allah, "Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu di sisi Rabb kalian adalah kepastian yang sudah ditetapkan." (QS. Maryam:71) Dan aku tidak pernah tau, apabila aku telah mendatanginya apakah aku akan keluar darinya ataukah tidak."
Salah seorang ulama Tabi'in, Imam al-Hasan al-Bashri bercerita bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada saudaranya, ‘Apakah sudah datang padamu kabar (ayat) bahwa kau pasti mendatangi neraka?’ Dia menjawab: ‘Ya.’ Dia bertanya lagi: ‘Apakah sudah datang padamu kabar bahwa kau akan keluar dari neraka itu?’ Dia menjawab: ‘Tidak.’ Dia berkata: ‘Jika demikian, bagaimana kau masih bisa tertawa terbahak-bahak?’ Kemudian Al Hasan Al Basri mengatakan bahwa dia tidak pernah lagi melihat laki-laki tersebut tertawa terbahak-bahak sampai akhir hayatnya.
Abu Maisarah ketika berbaring di tempat tidurnya mengatakan, "Aduhai, sekiranya ibuku tidak pernah melahirkan diriku." Kemudian ia menangis. Maka ketika dia ditanya sebab tangisannya dia menjawab, "Kita diberi tahu bahwa kita akan mendatangi neraka dan tidak diberi tahu bahwa kita akan keluar darinya."
Sesungguhnya doa orang-orang shalih yang terdahulu ketika mendengar ayat ini mereka berdoa, "Ya Allah, keluarkanlah aku dari neraka dalam keadaan selamat, dan masukkanlah aku ke dalam surga dalam keadaan beruntung."
Suatu hari datanglah Abu Rasyid, Nafi ibnul Azraq kepada Ibnu Abbas. Maka Nafi berkata kepada Ibnu Abbas, "Hai Ibnu Abbas, bagaimanakah menurutmu makna firman Allah : "Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan." Ibnu Abbas menjawab, "Adapun saya dan kamu, wahai Abu Rasyid, pasti akan mendatanginya. Maka tunggulah apakah kita dapat keluar darinya ataukah tidak."
MAKNA 'WURUD' (MENDATANGI NERAKA) DALAM AYAT TERSEBUT
Imam Thanthawi dalam Al Wasit mengatakan bahwa terdapat beberapa pendapat tentang penafsiran kata 'wurud' dalam ayat tersebut. Pertama, mendatangi berarti semua orang baik mukmin atau kafir akan memasuki neraka, namun neraka tidak akan mencelakakan orang yang tidak berhak masuk Neraka, neraka akan dingin terasa bagi mereka seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Pendapat kedua, mendatangi berarti melihat neraka dari jarak dekat namun orang yang beriman tidak memasukinya. Ketiga, mendatangi dalam ayat ini adalah bagi orang-orang kafir saja. Keempat, "wurud" berarti benar-benar memasuki neraka, orang yang baik maupun orang buruk.
Dan pendapat yang paling tepat adalah -Allahua'lam- pendapat kelima yang menyatakan bahwa 'wurud' atau mendatangi bagi orang-orang kafir adalah memasukinya, dan bagi orang yang beriman berarti mendatangi neraka, yaitu melewati shirâth (jembatan) yang dibentangkan di atas Neraka tersebut. Dan pendapat inilah yang dipilih mayoritas ulama mutaqaddimin dan ulama kotemporer. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menerangkan bahwa al wurud dalam ayat ini berarti bahwa kaum muslimin mendatangi, artinya melintasi jembatan di hadapannya. Sedangkan wurudnya (datangnya) orang-orang musyrik adalah memasukinya. Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Jawâbuss Shahîh memilih pendapat bahwa pengertian al-wurûd adalah dengan menyeberangi shirâth. Imam Nawâwi rahimahullah pun menguatkan arti menyeberangi shirâth. Beliau ketika menerangkan hadits Ummu Mubasysyir berkata: “Yang benar, maksud al-wurûd (mendatanginya) dalam ayat adalah melewati shirâth. Shirâth adalah sebuah jembatan yang terbentang di atas neraka Jahanam. Para penghuni neraka akan terjatuh di dalamnya. Sementara selain mereka akan selamat”.
Demikian pula pakar tafsir pada era modern ini, seperti Syaikh As Sa'di dalam Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, dan Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz, dan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid dalam Tafsir Al-Mukhtashar, mereka merajihkan pendapat bahwa mendatangi neraka berarti melewati sirath. Syaikh As-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Orang-orang menyeberangi shirath sesuai dengan kadar amalannya (di dunia). Sebagian melewatinya secepat kedipan mata, atau secepat angin, secepat jalannya kuda terlatih maupun seperti kecepatan larinya hewan ternak. Sebagian (menyeberanginya) dengan berlari-lari, berjalan dan merangkak (namun mereka selamat). Sebagian yang lain tersambar dan terjerumus jatuh di dalam neraka. Masing-masing sesuai dengan ketakwaannya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa (kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) dan membiarkan orang-orang zhalim (yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan kekufuran dan maksiat) di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.”
Pendapat ini juga diperkuat hadits dari Ummu Mubasysyir Radhiyallahu ‘anha dalam Shahih Muslim (6354). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat berada di samping istrinya, Hafshah, “Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah berbaiat di bawah pohon (Perjanjian Hudaibiyah) yang akan masuk neraka”. Hafshah bertanya, “Mereka akan memasuki neraka, wahai Rasulullah.” Beliau berdalil dengan membaca surat Maryam ayat 71 (yang artinya): “Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. Mendengar hal ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah telah berfirman setelahnya: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut)”. Allahua'lam.
Sumber:
Faidah dari Guru kami Ustad Dr Irfan Yuhadi hafizahullah dan dari sumber lain sebagai tambahan faidah.
Dicatat dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.
Komentar
Posting Komentar