Cara Zikir setelah Shalat menurut Mazhab Syafi'i


PERTANYAAN:
Apakah mazhab Syafii berpendapat bahwa tata cara zikir setelah shalat wajib adalah dengan cara dikeraskan secara berjamaah?

JAWAB:
Tatacara berdzikir setelah shalat menurut Imam Syafii dan Syafiiyah,





1/111 - قال الامام الشافعي رحمه الله تعالى في - الام





وأختار للإمام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف من الصلاة
ويخفيان الذكر إلا أن يكون إماماً يجب أن يُتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تُعلم منه
ثم يسر ؛ فإن الله عز وجل يقول " ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها
يعنى – والله تعالى أعلم - :الدعاء ، "ولا تجهر " ترفع ، " ولا تخافت " حتى لا تسمع نفسك
انتهى





3/465-469 - وقال الامام النووي في المجموع
:قال أصحابنا
إن الذكر والدعاء بعد الصلاةيستحب أن يسر بهما
 إلا أن يكون إماما يريد تعليم الناس فيجهر ليتعلموا
فإذا تعلموا وكانوا عالمين أسره .واحتجالبيهقي وغيره في الإسرار
 بحديث أبي موسى الأشعري رضي الله عنه
قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم وكنا إذا أشرفنا على واد هللنا وكبرنا
ارتفعت أصواتنا فقال النبي صلى الله عليه وسلم
يا أيها الناس اربعوا على أنفسكم فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا إنه معكم سميع قريب
رواه البخاري ومسلم





Imam Syafii- rahimahullah berkata dalam kitab Al-Umm 1/111:





"Dan aku lebih memlilih Imam dan makmum keduanya berdzikir kepada Allah setelah selesai shalat dengan melirihkan bacaan dzikirnya kecuali jika imam menginginkan untuk mengajarkan dzkir kepada makmum, maka boleh ia men-jahr-kan (dikeraskan) sampai makmum memahami bahwa ia sedang diajarkan bacaan-bacaan dzikir, kemudian setelah itu ia kembali melirihkannya, karena Allah Azza wa jalla berfirman: "Dan janganlah engkau keraskan suaramu dalam shalat dan janganlah pula melirihkannya." Wallahu taala a'lam, (shalat) yakni berdoa. "Janganlah engkau keraskan..." maknanya janganlah engkau mengangkat suara. "Jangan pula melirihkannya." maknanya jangan sampai engkau sendiri tidak mendengarnya.''
Selesai.





Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Majmu' (3/465-469):





"Berkata para sahabat kami ulama syafiiyyah: Sesungguhnya dzikir dan doa setelah shalat disunnahkan untuk dilirihkan kecuali jika imam ingin mengajarkan kepada makmum, maka boleh ia mengeraskan agar mereka mudah mempelajarinya, jika mereka sudah mengerti dan telah memahami (bacaan-bacaan zikir) maka zikir kembali dilirihkan, Al-Baihaqi dan yang lainya berdalil dengan hadist Abu Musa Al-'Asy'ari radiyAllahuanhu ia berkata: "Suatu ketika kami pernah bersama Nabi ShAllahu alaihi wa sallam, dan jika kami melewati satu lembah maka kami bertahlil dan bertakbir, dan kami saling mengeraskan suara-suara kami, kemudian Nabi bersabda: "Wahai sekalian manusia, sayangilah diri kalian sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Zat yang tuli dan ghaib, namun sesungguhnya kalian bersama Zat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat."
Diriwayatkan oleh bukhari dan Muslim."









Dijawab oleh Ustaz Rudi Abu Aisyah Al Barbasiy Al Jawiy,
semoga Allah muliakan beliau di dunia dan di akhirat.





Disunting dan diposting oleh Abu Osamah
(Bayu bin Slamet Ad Daisamiy),
semoga Allah mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat untuk Anak-Anakku (Syair Abu Ishaq Al Albiri)

ALFIYAH IBNU MALIK: Penjelasan Bab Tamyiz